Sahabat sempatkah terpikir oleh Anda setiap hal yang Anda lakukan terhadap orang lain adalah sesuatu hal yang cukup berarti bagi mereka ? Sehingga Anda patut bangga karenanya sebab merasa telah berhasil menjadi pahlawan bagi mereka ?
Atau …
Sahabat sekalian merasa harus menjadi figur “ besar “ terlebih dahulu untuk dapat melakukan “tugas – tugas” kepahlawanan ?
Hm … benarkah demikian ?
Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ) kata pahlawan memiliki arti : orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Namun .. kebenaran seperti apakah yang pantas diperjuangkan ?
Sebuah kerja akan akan mendatangkan manfaat serta kebahagiaan bagi orang lain bila dilakukan berdasar pada “hati nurani “ . Klise memang, tapi ini fakta. Bagaimana tidak ? Kita mampu bertahan dalam garis kebenaran, tetap concern perihal etika serta moral dan peduli terhadap manusia dan kemanusiaan. Mengapa demikian ?
Karena nuranilah yang akan meredam “kegilaan” untuk disebut sebagai pahlawan. Dimana kita mudah merasa menjadi seorang pahlawan setelah terkesan gagah ( meski sebenarnya picik) atau sibuk melakukan kerja – kerja “ besar “, namun sayang tidak “pada tempatnya”. Sehingga bukan kemaslahatan yang didapat, tetapi sebaliknya.
Seperti apakah sebenarnya sosok pahlawan itu ?
“Para pahlawan…Mereka itu hanyalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya”
(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia, hal. xiii)
Ya, siapapun bisa menjadi pahlawan. Karena pahlawan sebenarnya hanyalah manusia biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa. Pahlawan mungkin gagal, tapi ia tak menyerah. Pahlawan mungkin terjatuh, tapi ia bangkit lagi. Ia tak mempedulikan semua itu. Baginya yang penting adalah ia berjuang dengan gagah berani –sama seperti yang definisi yang diberikan oleh KBBI.
Lalu dimanakah mereka, para pahlawan itu ?
Ada di sini. Coba sahabat, sekarang lihat sebelah kanan dan kiri Anda, Kemudian lihat ke dalam diri Anda. Bisa jadi pahlawan itu adalah Anda sendiri. Jangan menanti mereka. Jangan menunggu mereka. Seperti yang dikatakan Anis Matta, para pahlawan tidak akan datang. Para pahlawan itu bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan tumbuh di negeri ini. Mereka adalah saya, Anda, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu keluar dari comfort zone mereka, merebut takdir kepahlawanan mereka, dan mulai menghancurkan masalah demi masalah yang pelik dengan solusi-solusi cerdas mereka.
Dan … sosok kepahlawanan seperti apakah yang layak kita jadikan panutan ?
Mereka adalah figur – figur pahlawan spiritual. Hitler mungkin mampu membuat seluruh Eropa kecut dengan kekuatan militernya, tapi seorang Mahatmah Gandhilah yang mampu menyihir dunia dengan kekuatan spiritualnya, sampai-sampai ketika Gandhi wafat, orang-orang berkata bahwa “kebaikan” telah wafat. Gandhi tidak mempunyai harta. Berjalan pun dia kadang tidak memakai sandal. Namun, dia tidak memerlukan itu. Kekuatannya tidak terletak dalam kekuatan duniawi. Kekuatannya adalah kekuatan spiritual.
Para pahlawan seperti itulah yang seyogyianya kita ciptakan di dalam diri kita. Sama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang kurus kerempeng, tetapi sangat dicintai Rasulullah karena kepribadiannya. Di kala Islam mendapat ancaman pemberontakan setelah Rasul wafat, lelaki kurus kerempeng ini berubah menjadi singa yang ganas dan meradang di depan Umar yang terkenal garang, “Demi Allah, sekiranya mereka tak hendak menyerahkan kepadaku tali-temali unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah, pastilah akan saya hadapi!”
Bukan kekuasaan yang para pahlawan spiritual ini cari. Bukan pula kemewahan atau kekuasaan. Itu hanyalah semu bagi mereka. Tujuan mereka lebih dari itu. Jauh lebih agung dari itu. Tujuannya yang sebenarnya ada di balik fatamorgana itu: akhirat. Karena seperti kata Anis Matta, hanya ketika seorang pahlawan menetapkan misi hidupnya sebagai pemburu akhirat, ia akan sanggup melampaui dunia. Berjibakunya dirinya ketika menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini, pengorbanan maksimalnya untuk negeri ini, cucuran keringatnya ketika mencari solusi-solusi untuk negara ini, itu semua dilakukannya hanya untuk Rabb-Nya. Ia tak terlalu peduli apakah namanya akan dimasukkan ke dalam lembaran sejarah manusia atau tidak. Ia tak peduli akan dimakamkan di taman makam pahlawan atau tidak. Ia hanya peduli apakah namanya tercantum sebagai penduduk surga atau tidak.
Sanggupkan kita mengemban tugas ini?
Jawabannya berpulang pada masing – masing dari kita, Sahabat.