“ Kenapa ini semua terjadi pada diriku. Ya Allah, Aapa salahku ?’ ” Ha … ha … ha … .. Fahri, kau masih ingat dengan kesalehan nabi Yusuf . tapi meski begitu ia di fitnah Fahri. Ia dipenjara karena fitnah dari Julaekhah. Apa yang ia katakan ketika masuk penjara ? Ya Allah, jika dengan ini aku menjadi lebih baik. Aku akan menerimanya. Fahri saat ini Allah dekat denganmu. Allah sedang berbicara kepadamu Fahri. Selama ini tanpa sadar kau telah sombong. Kau merasa dirimu yang paling benar. Ingat Fahri, inti dari agama itu adalah ikhlas dan sabar. “
Masih ingat kan penggalan dialog ini ? Ya, ini adalah petikan dialog antara tokoh Fahri dalam film Ayat – Ayat Cinta dengan seorang bapak tua ( maaf saya taidak ingat siapa namanya ) di dalam penjara. Ketika itu sosok Fahri tampak sangat kalut. Ia tidak pernah menyangka bila petaka itu menimpa dirinya. Seorang yang sanagat hanif, sholeh terpaksa merasakan hotel prodea karena dituduh memperkosa seorang wanita, Noura. Sebuah perbuatan yang jangankan untuk dilakukan, sekedar terbetik dalam benak pun tidak. Yah apa mau dikata. “kun fa yakun ” ( yang terjadi maka terjadilah) bila itu sudah kehendak-Nya. Namun bukan berarti Allah Swt itu jahat, egois, otoriter. TIDAK. SEKALI LAGI TIDAK .
But, mengapa itu Ia lakukan kepada kita ? Bukankah selama ini kita sudah berusaha menjalani semua yang Ia ajarkan ? ( Meski tak selamanya mulus, aku, kamu , kita semua tetap berusaha menurut kesanggupan kita masing – masing kan ? Lalu dimana letak kesalahan kita ?
Hmmm…., nggak ada yang salah kok. Co’z kita dihadirkan di dunia ini memang untuk di uji oleh- Nya. Hingga terpilih sosok – sosok mulia dan tangguh yang akan menemani-Nya di surga. Setiap orang memiliki takdirnya dan cobaan ( ujian ) masing – masing orang itu berbeda. Sesuai dengan batas kemampuannya masing – masing. Allah itu Arrahman ( maha penyayang ) dia sangat menyayangi hamba – hambanya.
Apa buktinya ? kalau sayang bukannya harus dijaga bukan diperberat dengan masalah – masalah ? Ehm, itulah luar biasanya Allah Swt. Subkhanallahu Allahu Akbar. Allah memberikan apa yang aku dan kamu butuhkan . Bukan berdasarkan keinginan kita.Ingat teman, Dialah yang menciptakan kita, jadi jelas bila ia tahu setiap inci dari diri kita melebihi kita sendiri. Nggak mungkinkan ciptaan itu lebih hebat dari penciptanya ?
Bila kita cengeng, ia akan menghadirkan serentetan peristiwa yang akan membuat kita belajar untuk tegar dan tabah.
Apa yang kita inginkan, mimpi – mimpi kita, cita – cita ini. Sengaja tak segera Ia berikan. Allah sengaja menundanya hingga kita benar – benar siap menerimanya. Kapan ? ketika kemampuan ini memang sudah optimal serta jiwa kita telah matang dan paham benar akan segala konsekuensinya. Sebab tanggung jawab besar selalu mengiringi terlaksananya sebuah cita – cita besar. Memang jalan kesana tak manis, namun dengan kesabaran toh akhirnya dapat dilalui pula hingga kita bisa mengecap manisnya keberhasilan itu.
Ketika diri ini ” merasa lebih “, maka Ia tak segan – segan menegur kita dengan peristiwa yang memaksa kita untuk bercermin bahwa ” di atas langit masih ada langit “.
Jika kita sedang sibuk meratapi kamalangan diri, selalu saja ada penggambaaran yang”nyentil” kita untuk nunduk kebawah. Melihat bahwa masih banyak orang yang lebih menderita dari kita. Dan ternyata mereka fine – fine aja tuh. Masak kita kalah dari mereka ? Malu dong. Oke, dari situlah kita bisa belajar untuk bersyukur atas segala nikmat yang kita terima.
Tidak itu saja. Pernahkah Allah memaksakan kehendaknya kepada kita ? Bila sedikit saja kita membangkang maka Ia akan segera menghujamkan hukuman mematikan buat kita ? Nggak kan ? Allah itu. Maha Adil dan bijaksana. Ia bukan sosok otoriter seperti Fir’aun atao rezim Hitler. Allah Swt selalu meawarkan dua pilihan ikut atau tidak. Dan tentunya masing – masing pilihan itu ada konsekuensinya. Untuk itulah surga dan neraka diciptakan.
Memang aku dan kamu tidak menciptakan takdir itu, tapi kita menuliskannya. Sementara Allah yang akan memilihnya untuk kita sesuai dengan ambang batas kemampuan kita. Bukankah musibah ( ujian ) dikhususkan bagi orang yang arif diantara manusia dan tidak dikenakan pada mereka yang bukan orang arif ( HR. Al Qada’i ).
The other sentences, hidup adalah serangkain pelajaran yang mesti dijalani dan di hadapi ( Helen Keller } . Teman, hidup ini layaknya sekolah siang dan malam ( seumur hidup ). Yang namanya sekolah pasti ada jenjang peringkat / kelas. Dari kelas I naik ke Kelas II terus ke kelas III dst. Untuk dapat naik kelas kita harus menempuh ujian kan ? Nggak ada sekolah yang tidak mengadakan ujian. Iya nggak And, macam dan tingkatannya pun berbeda sesuai dengan kelasnya. Tentu ujian di kelas satu relatif lebih sedewrhana/ mudah ketimbang kelas diatasnya. Nah, semakin tinggi kelas kita maka ujiannya pun juga makin berat. Hal yang sama pun berlaku dalam sekolah kehidupan ini . Semakin tinggi tataran kita ( Insya allah ) maka semakin kompleks pula ujian yang mesti kita hadapi. dan jangan heran pula bila semakin dihadapi ujian itu juga semakin berat hingga akhirnya menuju pada titik kesempurnaan . Wallahu ‘alam bishowab.
Maaf bila tulisan perdana ini masih banyak kekurangannya . Salam kenal dari Diy. Diy tunggu komennya ya.