Sumber : http://muktiamini.blogspot.com/2008/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut.html
PENDAHULUAN
Ayah-ibu merupakan figur orang dewasa pertama yang dikenal anak sejak bayi. Selain kedekatan karena faktor biologis, anak biasanya cukup dekat dengan ayah-ibunya karena faktor intensitas waktu yang cukup banyak ia habiskan bersama mereka. Oleh karena itu, ayah-ibu mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak, termasuk dalam hal pengembangan karakter. Peran penting ayah-ibu ini memerlukan perencanaan dan tindak lanjut, agar ayah-ibu dapat melakukan pengasuhan yang patut bagi anak. Dalam hal pengembangan karakter, ayah-ibu juga berperan sangat signifikan sehingga ayah-ibu perlu belajar tentang pengasuhan yang mampu mengembangkan karakter yang baik bagi anak-anaknya.
Namun kenyataan tidak semudah teori. Suatu data penelitian menyebutkan bahwa dari 100 % orang tua, yang mampu dan sadar untuk bisa mendidik karakter anak tidak lebih dari 20 atau 30%. Selebihnya tidak memiliki kapasitas untuk mendidik anak (Yaumil dalam Harry, 2002). Banyak kasus kerusakan moral dan perilaku anak yang terjadi disebabkan pengaruh buruk dari pengasuhan ayah/ibu yang tidak patut. Selain itu, tantangan kehidupan modern yang ditandai dengan berbagai fenomena seperti: kedua orang tua (ayah-ibu) yang bekerja, derasnya arus informasi media cetak dan elektronik yang nyaris tanpa saringan, dan terpaparnya anak dengan pornografi; diduga juga berpengaruh signifikan terhadap pengembangan karakter anak. Berbagai tantangan tersebut makin menguatkan akan peran penting pengasuhan yang patut oleh ayah-ibu bagi pengembangan karakter anak. Agar ayah-ibu dapat mengembangkan karakter anak melalui pengasuhan yang patut, perlu disosialisasikan tentang pentingnya pengasuhan yang patut serta berbagai ilustrasi tentang cara ayah-ibu mengasuh anak secara patut. Salah satu bentuk sosialisasi tersebut adalah melalui seminar, pelatihan, atau penyebarluasan media edukatif untuk ayah-ibu.
Makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana sosialisasi tersebut. Pada makalah ini akan dibahas tentang hakikat pengembangan karakter, peran ayah-ibu bagi pengembangan karakter anak, pengasuhan ayah-ibu yang patut bagi pengembangan karakter anak, dan peran strategis ayah dalam mengembangkan karakter anak.
PEMBAHASAN
A. Hakikat Pengembangan Karakter
Kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku (Wynne, 1991). Dalam bahasa Inggris, character bermakna hampir sama dengan sifat, perilaku, akhlak, watak, tabiat dan budi pekerti (Taryana & Rinaldi, www.sd-binatalenta.com). Oleh karena itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. Sementara orang yang berperilaku jujur atau suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter sangat berkaitan erat dengan personality (kepribadian), yang mana seseorang disebut orang yang berkarakter jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.
Ahli lain, Kurtus (1997), berpendapat bahwa karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behaviour) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.
Sementara itu, Kilpatrick (1992) dan Lickona (1992) sebagai pencetus utama pendidikan karakter percaya adanya keberadaan moral absolute. Mereka meyakini bahwa nilai moral tidak hanya bersifat relatif tetapi juga ada nilai moral yang bersifat absolut yang bersumber dari berbagai agama di dunia. Moral absolut yang disebut the golden rule ini perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik dan benar, misalnya menanamkan sikap jujur, suka menolong orang, saling menghormati, dan bertanggung jawab.
Kaitannya dengan pendidikan moral, pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, namun juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga anak menjadi paham (domain kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domain afektif) nilai yang baik, lalu dapat melakukannya (domain psikomotor) (Martianto, dalam www.tumoutou.net).
Lebih lanjut, Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) ,dan perbuatan bermoral (moral action). Dalam hal moral knowing, terdapat enam hal sebagai tujuan diajarkannya pendidikan moral, yaitu kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai moral (knowing moral values), penerimaan perspektif (perspective taking), alasan tentang moral (moral reasoning), pengambilan keputusan (decision making) dan pemahaman diri (self-knowledge). Sementara pada moral feeling terdapat enam aspek emosi yang diharapkan dapat dicapai seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yaitu: kesadaran (conscience), harga diri (self-esteem), empati (empathy), menyukai kebaikan (loving the good), kontrol diri (self-control), dan kerendahan hati (humility). Sedangkan moral action merupakan hasil dari dua komponen karakter sebelumnya.
Ahli lainnya yaitu Megawangi (1999) sebagai pencetus pendidikan karakter di Indonesia telah menyusun karakter mulia yang selayaknya diajarkan kepada anak, yang disebut sebagai 9 pilar karakter yaitu: (1) cinta Tuhan dan kebenaran; (2) tanggungjawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) amanah dan kejujuran; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati; serta (9) toleransi, cinta damai dan persatuan.
Apakah karakter seseorang dapat dirubah? Rizal (dalam www.sahabatnestle.co.id) mengatakan bahwa karakter seseorang tidak dapat diubah, namun lingkungan dapat menguatkan atau memperlemah karakter tesebut. Oleh karena itu orang tua sebagai acuan pertama anak dalam membentuk karakter perlu dibekali pengetahuan mengenai perkembangan anak dengan melihat harapan sosial pada usia tertentu, sehingga anak akan tumbuh sebagai pribadi yanng berkarakter. Menurut Taryana dan Rinaldi (www.sd-binatalenta.com), karakter terbentuk dari proses meniru yaitu melalui proses melihat, mendengar dan mengikuti. Maka karakter sesungguhnya dapat diajarkan secara sengaja. Oleh karena itu seorang anak dapat memiliki karakter yang baik atau juga karakter buruk, tergantung sumber yang ia pelajari.
B. Peran Ayah-Ibu bagi Pengembangan Karakter Anak
Pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga batih (kakek-nenek), sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Jika antar berbagai unsur lingkungan pendidikan tersebut tidak harmonis maka pembentukan karakter pada anak tidak akan berhasil dengan baik. Pada keluarga inti, peranan utama pendidikan terletak pada ayah-ibu. Philips (dalam Nurokhim, www.tnial.mil.id) menyarankan bahwa keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang (school of love), atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.
Menurut Gunadi (dalam www.skketapang.org), ada tiga peran utama yang dapat dilakukan ayah-ibu dalam mengembangkan karakter anak, yaitu sebagai berikut.
Berkewajiban menciptakan suasana yang hangat dan tenteram. Tanpa ketenteraman, akan sukar bagi anak untuk belajar apapun dan anak akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan jiwanya. Ketegangan atau ketakutan adalah wadah yang buruk bagi perkembangan karakter anak.
Menjadi panutan yang positif bagi anak sebab anak belajar terbanyak dari apa yang dilihatnya, bukan dari apa yang didengarnya. Karakter orangtua yang diperlihatkan melalui perilaku nyata merupakan bahan pelajaran yang akan diserap anak.
Mendidik anak, artinya mengajarkan karakter yang baik dan mendisiplinkan anak agar berperilaku sesuai dengan apa yang telah diajarkannya.
Keluarga yang sehat dicirikan dengan keterlibatan ayah-ibu yang hangat dalam mengasuh dan mendidik anak, sehingga anak akan memiliki figur ayah-ibu yang seimbang serta memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dengan ayah-ibunya. Jika ayah-ibu sering bertemu dan berdialog dengan anak, anak akan menghormati ayah-ibunya. Semakin besar dukungan ayah-ibu terhadap anak, semakin tinggi perilaku positif anak (www.bkkbn.go.id).
C. Pengasuhan Ayah-Ibu yang Patut bagi Pengembangan Karakter Anak.
Widyawati (dalam www.sahabatnestle.co.id) memberikan beberapa petunjuk bagi ayah-ibu untuk mengembangkan karakter anak, yaitu: (1) memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak dan memahami bahwa setiap anak unik; (2) memenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan bernutrisi, rasa aman, dan nyaman; (3) memperhatikan pola pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah anak dan mencoba menyelaraskan pola tersebut dengan pola pengasuhan orang tua; (4) memberikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji; (5) memberikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya. Jika lingkungan sosial kurang baik, sebaiknya ayah-ibu memindahkan anak dari lingkungan tersebut; dan (6) bersikap tegas dan konsisten.
Sebaliknya, ada beberapa hal yang perlu dihindari ayah-ibu dalam mengembangkan karakter anak, yaitu: (1) memaksakan ambisi-ambisi pada anak, apalagi jika bertentangan dengan karakter dasar anak; (2) berkata atau berbuat kasar pada anak, karena berpotensi menimbulkan ketaatan sesaat dan kepribadian pemberontak; (3) tidak membanding-bandingkan anak; (4) tidak terlalu sering berganti-ganti pola asuh karena cenderung mempengaruhi kepribadian anak; dan (5) tidak melemahkan pola asuh dengan penganiayaan pada anak, baik secara verbal maupun fisik. Biasanya jika penganiayaan ini dilakukan orang tua, pada anak akan timbul sikap curiga berlebihan (skeptis), menarik diri, dan enggan menjalin komunikasi dengan orangtua.
Secara rinci, setidaknya terdapat 10 cara yang dapat dilakukan ayah-ibu untuk melakukan pengasuhan yang tepat dalam rangka mengembangkan karakter yang baik pada anak, yaitu sebagai berikut (Ryan, dalam www.charactered.net).
Menempatkan tugas dan kewajiban ayah-ibu sebagai agenda utama.
Pada jaman modern yang penuh persaingan hal ini cukup sulit dilakukan. Namun ayah-ibu yang baik akan secara sadar merencanakan dan memberikan waktu yang cukup untuk tugas keayahbundaan (parenting). Mereka akan meletakkan agenda pembentukan karakter anak sebagai prioritas utama.
Mengevaluasi cara ayah-ibu menghabiskan waktu dalam sehari/seminggu.
Ayah-ibu perlu memikirkan jumlah waktu yang ia lalui bersama anak-anak. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa jumlah waktu seorang ayah bersama anak sehari-harinya ternyata tidak lebih dari 19 menit (Risman, 2008). Ayah-ibu perlu merencanakan cara yang sesuai dalam melibatkan diri bersama anak-anak, melalui berbagai kegiatan sehari-hari seperti belajar bersama, makan bersama, mendongeng sebelum tidur, dan sebagainya.
Menyiapkan diri sebagai contoh yang baik.
Setiap anak memerlukan contoh yang baik dari lingkungannya. Ayah-ibu merupakan lingkungan terdekat yang paling banyak ditiru oleh anak, baik atau buruk. Hal ini tidak dapat dihindari, karena mereka sedang pada masa imitasi dan identifikasi. Menjadi contoh bagi anak merupakan pekerjaan utama yang harus dilakukan sebagai orang tua.
Membuka mata dan telinga terhadap apa saja yang sedang mereka serap/alami.
Anak-anak ibarat spons kering yang cepat menyerap air. Kebanyakan yang mereka serap adalah yang berkaitan dengan nilai-nilai moral dan karakter. Berbagai media seperti buku, lagu, film, TV, play station secara terus-menerus memberikan pesan pada anak dengan cara yang mengesankan, baik pesan yang bermoral maupun tidak bermoral. Oleh karena itu, ayah-ibu harus menjadi pengamat yang baik untuk menyeleksi berbagai pesan-pesan dari berbagai media yang digunakan anak.
Menggunakan bahasa karakter.
Anak-anak akan sulit mengembangkan karakternya kecuali jika orang tua menggunakan bahasa yang jelas dan lugas tentang tingkah laku baik dan buruk. Ayah-ibu perlu selalu menjelaskan pada anak tentang perbuatan yang boleh dan tidak boleh berikut alasannya.
Memberikan hukuman dengan kasih sayang.
Hukuman tidak identik dengan kekejaman. Banyak ayah-ibu yang kurang tepat dalam mempersepsikan hukuman ini, sedemikian menghindari sehingga cenderung memanjakan anak. Akibatnya anak menjadi pribadi yang sulit diatur. Anak-anak memerlukan batasan atau rambu-rambu yang jelas, dan kadang mereka melanggar batasan tersebut. Di sinilah arti penting dari hukuman. Hukuman yang mendidik merupakan salah satu cara manusia untuk belajar. Anak-anak perlu memahami bahwa jika ayah-ibu memberikan hukuman adalah karena ayah-ibu sayang pada mereka. Tentu saja dalam hal ini ayah-ibu juga perlu memahami dengan baik tentang syarat dan cara memberikan hukuman yang mendidik pada anak.
Belajar untuk mendengarkan anak.
Berkomunikasi yang efektif dengan anak bukanlah hal yang mudah. Salah satu hal yang kadang dilupakan ayah-ibu adalah meluangkan waktu untuk mendengarkan segala keluh kesah atau cerita anak. Dengan kesibukan ayah-ibu yang padat setiap harinya (apalagi jika keduanya bekerja), maka waktu senja dan malam hari saat bertemu anak-anak terkesan sebagai waktu sisa. Padahal, pada saat itu biasanya banyak sekali yang ingin disampaikan anak pada ayah-ibunya. Oleh karena itu, ayah-ibu perlu selalu mengalokasikan waktu untuk mendengarkan anak-anak. Selain itu, ayah-ibu perlu menegaskan agar anak-anak tahu bahwa apapun yang mereka ceritakan itu sangat penting dan menarik. Tentu hal ini harus selaras dengan sikap ayah-ibu sewaktu mendengarkan anak, misalnya dengan duduk sejajar mata anak, sambil memangku, atau mengobrol santai selepas makan malam; bukan mendengarkan sambil membaca koran atau menonton televisi.
Terlibat dengan kehidupan sekolah anak.
Sekolah merupakan bagian penting dalam kehidupan anak-anak. Bukan hanya mendapatkan kesenangan, selama di sekolah kadang anak juga menemukan berbagai permasalahan, kekecewaan, perselisihan pendapat, atau kekalahan. Ayah-ibu perlu membantu menyiapkan anak untuk menghadapi semua hal tersebut. Jika anak berhasil melalui berbagai masalahnya di sekolah, karakter anak juga akan makin kokoh dan anak makin percaya diri menatap masa depan.
Selalu mengadakan makan bersama.
Meskipun sibuk, ayah-ibu perlu meluangkan waktu untuk makan bersama dengan seluruh keluarga, setidaknya sekali dalam sehari (makan pagi atau malam hari). Makan bersama merupakan sarana yang baik untuk berkomunikasi dan menanamkan nilai yang baik. Melalui percakapan ringan saat makan, anak tanpa sadar akan menyerap berbagai peraturan dan perilaku yang dikehendaki.
Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja.
Ayah-ibu perlu membantu mengembangkan karakter yang baik melalui contoh tentang berbagai sikap dan kebiasaan baik seperti tentang kedisiplinan, hormat, santun, tolong-menolong, dan lain-lain. Karakter anak tidak akan berkembang baik jika hanya melalui nasehat ayah-ibu saja. Pondasi dalam pengembangan karakter adalah perilaku, yaitu bagaimana ayah-ibu berupaya mendorong anak-anak untuk terbiasa berperilaku baik melalui contoh langsung.
D. Peran Strategis Ayah bagi Pengembangan Karakter Anak
Menjadi ayah pada generasi sekarang tidak mudah. Selain mencari nafkah, ayah juga diharapkan dapat mengusahakan keutuhan keluarga dan menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Pada generasi sebelumnya, pengasuhan anak cenderung dilimpahkan pada ibu saja. Namun saat ini terjadi pergeseran konsep, dari pengasuhan motherhood menjadi parenthood. Konsep parenthood menitikberatkan pada peran kedua orangtua, ayah-ibu (Purbo, dalam www.sahabatnestle.co.id). Di sinilah terbuka peluang bagi keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Ayah yang menjalankan peran pengasuhan secara optimal ternyata sangat besar mempengaruhi perkembangan anak, termasuk dalam perkembangan karakternya.
Selain figur ibu, anak juga memerlukan figur ayah bagi pengembangan karakternya. Hal ini karena ada peran-peran ayah yang khas, yang sulit tergantikan oleh perempuan meskipun perempuan tersebut adalah single parent yang berperan sebagai ayah-ibu sekaligus. Peran ayah ini diperlukan baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan. Pola pengasuhan ibu yang cenderung hati-hati akan diseimbangkan oleh ayah. Umumnya ayah bersikap lebih santai, lugas, dan banyak memberi kebebasan pada anak untuk bereksplorasi. Ayah membantu anak bersifat tegar, kompetitif, menyukai tantangan, dan senang mencoba. Jika ibu memerankan sosok yang memberikan perlindungan dan keteraturan, ayah membantu anak bebas bereksplorasi dan menyukai tantangan. Kedekatan yang terjalin antara anak dengan ayahnya merupakan interaksi penting untuk mengembangkan sisi maskulin anak, sehingga anak akan berkembang secara sehat menjadi pribadi yang androgini.
Selain itu, ikatan ayah-anak juga mampu meningkatkan kemampuan adaptasi anak sehingga anak tidak mudah stres atau frustasi untuk berani mencoba hal-hal yang ada di sekelilingnya. Menurut penelitian, ayah yang hangat membuat anak lebih mudah menyesuaikan diri, lebih sehat secara seksual, dan perkembangan intelektualnya lebih baik. Keterlibatan ayah dalam keluarga juga akan meningkatkan IQ anak sampai 6-7. Di samping itu anak akan lebih memiliki rasa humor, lebih percaya diri, dan punya motivasi belajar (www.bkkbn.go.id).
Bagi anak perempuan, ayah merupakan tempat ia belajar tentang hal yang biasanya dominan ada pada laki-laki seperti kekuatan, ketegaran, keruntutan berpikir, pengendalian emosi, kepemimpinan, dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, dilihat dari sejarah kedekatan ayah-anak, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya kelak memiliki keinginan berprestasi tinggi dan berani bersaing. Persepsi ayah saat memandang anak perempuannya akan menumbuhkan konsep diri, merasa layak dihormati, dan memiliki kompetensi pada anak. Kelak anak perempuan ini akan cenderung terhindar dari hubungan pacaran yang tidak sehat, karena dapat menghargai diri sendiri seperti ayah menghargainya (www.bkkbn.go.id).
Sementara bagi anak laki-laki, ayah dapat menjadi contoh yang baik baginya untuk belajar bagaimana berkata, bersikap, berperilaku dan berpikir sebagai orang laki-laki. Melalui ayahnya, anak laki-laki dapat belajar misalnya tentang cara bergaul, cara memimpin orang lain, cara memperlakukan perempuan, cara menyelesaikan masalah, cara mempertahankan pendapat, dan lain-lain. Bila ayah dekat dengan anak laki-lakinya, peluang anak terjebak dalam masalah kenakalan remaja sangat kecil. Hal ini karena anak lelaki meniru model acuannya, yaitu ayahnya sendiri yang membantu anak berkembang. Anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang diberikan ayah pada dirinya.
Untuk dapat menjadi panutan bagi anak, seorang ayah perlu memiliki integritas, ketegasan dan konsistensi dalam menerapkan batasan atau aturan, sehingga anak tidak bingung dalam mengenali hal-hal yang baik dan buruk. Ayah biasanya berperan sebagai sosok yang memiliki otoritas dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak dalam keluarga beserta ganjaran/hukumannya. Hal ini akan mengembangkan anak untuk memiliki kontrol diri dalam berperilaku.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh ayah dalam pengasuhan anak untuk mengembangkan karakter mereka, yaitu sebagai berikut (Purbo, dalam www.sahabatnestle.co.id).
Selalu menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan anak walaupun hanya sebentar. Keterlibatan ayah ini dapat dilakukan melalui permainan, pemberian pujian/dukungan, menanyakan kejadian-kejadian yang dialami anak hari itu, dan sebagainya.
Menghindari tingkah laku menghina, meremehkan, memarahi dan memerintah anak, karena hal ini akan menimbulkan perilaku agresif dan tidak kooperatif pada diri anak.
Mengusahakan ikut terlibat secara aktif dalam mentransfer nilai-nilai yang baik saat bersama anak. Seorang ayah tidak selayaknya menyerahkan tanggung jawab trasfer nilai pada ibu saja lalu bersikap pasif atau acuh tak acuh pada anak. Anak perlu mendapatkan gambaran ayah sebagai figur yang positif, sehingga dapat mengurangi kecenderungan anak untuk berperilaku buruk di kemudian hari.
Mengupayakan diri sebagai figur idola bagi anak-anaknya. Misalnya dengan memberikan kasih sayang, perhatian, sikap tulus, teladan perilaku, dukungan, kehangatan sekaligus kewibawaan. Diharapkan melalui berbagai hal tersebut anak akan mencintai dan menghormati ayahnya, dan pada gilirannya anak dapat mengambil banyak pelajaran dari sosok ayah tersebut.
Namun bagi sebagian ayah, merubah pola pikir tentang keterlibatan dirinya dalam pengasuhan anak ternyata tidak mudah. Padahal, seharusnya sejak anak lahir ayah sudah dapat terlibat dalam pengasuhan anak. Oleh karena itu, keinginan seorang ayah untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak perlu ditanggapi dan didorong oleh pasangannya yaitu ibu. Agar ayah dapat menikmati benar perannya dalam turut serta mengasuh anak, maka perlu dibangun keeratan (bonding) antara ayah dengan anak, misalnya melalui cara berikut (www.bkkbn.go.id).
Menyadari tanggung jawab dan hak sebagai orang tua. Ayah menyumbang peran unik yang mewarnai kepribadian anak. Ibu yang bijak tidak akan terlalu khawatir bahwa anak perempuannya akan tumbuh menjadi anak tomboi bila terlalu sering berinteraksi dengan ayah. Misalnya dengan memberikan kesempatan anak perempuan bermain bola bersama ayah, karena bukan permainannya yang dinilai tetapi proses saat anak bermain yaitu sikap sportif, kompetitif dan menyehatkan.
Menyadari keterlibatannya dengan baik, sehingga ayah perlu mengatur waktu antara pekerjaan dengan mengasuh anak, sama halnya dengan ibu yang bekerja.
Menjaga konsistensi. Ayah hanya memiliki waktu di saat-saat tertentu saja sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sikap ayah yang tidak konsisten, misalnya kadang bersikap hangat namun lain hari sangat galak akan menimbulkan kebimbangan (ambivalen) pada anak, sehingga anak cenderung memilih menjauh dari ayahnya.
Meluangkan waktu untuk aktivitas di rumah. Ayah perlu menyadari bahwa kehadiran anak mengharuskannya mengurangi sebagian kebebasan dan hobinya. Anak memerlukan perhatian, waktu, tenaga dan pikiran dari ayahnya. Demi anak, ayah perlu mengurangi pos-pos pengeluaran keuangan dan kegiatan di luar yang tidak terlalu penting.
Memelihara jalinan komunikasi. Komunikasi yang sudah terjalin sejak anak berada dalam kandungan diusahakan tidak terputus. Jika terputus, ayah akan mengalami kesulitan untuk dekat dengan anak. Anak perlu diberikan waktu dan peluang seluas-luasnya untuk didengarkan atau diajak bercerita.
Mengajak anak berbicara, tertawa atau bermain, meskipun tidak terlalu lama. Ayah perlu mengembangkan konsep pertemanan di mana ayah tidak selalu memerintah ataupun melarang, namun juga dapat ditegur anak atau tidak gengsi diajak bermain.
Melibatkan anak dalam pekerjaan. Kebanyakan anak memandang kantor, pabrik, atau toko tempat ayah bekerja sebagai sebuah tempat asing. Ayah sesekali perlu mengajak anak ke tempat kerja sehingga anak mengenal kegiatan ayahnya sehari-hari.
Membangun citra diri anak, khususnya citra diri mengenai kelaki-lakian. Ayah berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak di masa depan. Melalui orang tua, anak diperkenalkan bahwa tanggung jawab keluarga perlu dipikul bersama. Jadi wawasan gender dalam peran laki-laki dan perempuan itu tidak dipersempit, tetapi sebaliknya diperluas. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan kegiatan mengasuh anak, bernyanyi, atau bermain dengan anak-anak.
Namun, ada kalanya seorang anak dibesarkan oleh ibu yang single parent. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya ibu mencarikan peran pengganti seorang ayah, agar anak tidak kehilangan sosok figur ayah. Peran pengganti tersebut dapat dilakukan oleh paman, kakek, guru atau orang lain yang dianggap pantas sebagai sosok teladan figur ayah dan secara emosi mempunyai kedekatan hubungan dengan anak.
PENUTUP
Karakter anak dapat dikembangkan sejak dini. Sebagai orang dewasa yang mempunyai ikatan biologis dan interaksi yang intensif dengan anak, ayah-ibu berperan sangat penting dalam pengembangan karakter anak. Peran ayah-ibu dalam pengembangan karakter anak adalah sebagai penggagas suasana yang hangat dan tenteram, panutan, dan pendidik. Pengembangan karakter anak oleh ayah-ibu dapat dilakukan melalui pengasuhan yang patut, antara lain dengan cara: memperlakukan anak sesuai keunikannya, memenuhi kebutuhan dasar anak, menyelaraskan dengan pola pendidikan di sekolah, memberikan dukungan, memberikan fasilitas sesuai usia, memprioritaskan kewajiban sebagai orang tua, mengevaluasi cara berinteraksi dengan anak, menjadi contoh, mengamati setiap perilaku anak, menggunakan bahasa karakter, memberikan hukuman karena sayang, mendengarkan anak, memantau anak dalam urusan sekolah, meluangkan waktu untuk makan bersama, dan menyelaraskan kata-kata dengan perilaku. Pada pengasuhan yang patut ayah mempunyai peranan yang strategis karena akan menjadi figur tentang sosok maskulin yang tidak dapat tergantikan oleh peran ibu. Konsep parenting modern memberikan kesempatan pada ayah untuk terlibat lebih intens pada pengasuhan anak, sehingga ayah pun memiliki kontribusi yang besar terhadap pengembangan karakter anak.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Karakter Anak, Orangtua Acuannya. Tersedia pada http://www.sahabatnestle.co.id/homev2/main/duniadancow/tksk_sd.asp? id=1015. Diakses 20 Maret 2008.
Anonim. Peran Ayah pada Pengasuhan Anak. Tersedia pada http://www.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail.php?artid=8. Diakses 20 Maret 2008.
Gunadi, P. Wawancara dengan Paul Gunadi. Tersedia pada http://www.skketapang.org/ArtikelDetail.asp?id=9. Diakses 21 Maret 2008.
Harry (2002). Tidak Lebih 20%-30 % Orang Tua yang Tidak Mampu Didik Karakter Anak. Tersedia pada http://www.kaltimprov.go.id/content.php?kaltim=news&code=1&view=37.
Diakses 20 Maret 2008.
Kilpatrick,W. (1992). Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. New York: Simon & Schuster, Inc.
Kurtus, R. (1997) Concern for The Character of Children. Tersedia pada http://www.school-for-champions.com/character/concern_children.htm., 14 Maret 2007. Diakses 24 Maret 2008.
Lickona, T. (1992). Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
Martianto, D.H. Pendidikan Karakter: Paradigma Baru dalam Pembentukan Manusia Berkualitas. Tersedia pada http://tumoutou.net/702_05123/dwi_hastuti.htm. Diakses 21 Maret 2008.
Megawangi, R. (1999). Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Depok: Indonesia Hertage Foundation (IHF).
Nurokhim, B. Membangun Karakter dan Watak Bangsa Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan. Tersedia pada http://www.tnial.mil.id/tabid/125/articleType/ArticleView/articleId/200/ Default.aspx. Diakses 22 Maret 2008
Purbo, A. Peran Ayah pada Pembentukan Karakter Anak. Tersedia pada http://www.sahabatnestle.co.id/homev2/main/dunia-dancow/tksk_sd.asp?id=1050. Diakses 20 April 2008.
Risman, E. (2008). Orangtua, Instropeksilah. Dialog Jumat Republika, Jumat 18 April 2008. Jakarta: HU Republika, pp. 4.
Ryan, K. (2002). Ten Tips for Raising Children of Character, in Character Education Informational Handbook and Guide. Tersedia pada http://charactered.net/parent/vincentbetter.asp. Diakses 23 Maret 2008.
Taryana, O. & Rinaldi, D. Kurikulum Pembentukan Karakter Siswa di SD Bina Talenta. Tersedia pada http://sd-binatalenta.com/Karakter_untuk_situs.pdf. Diakses 21 Maret 2008.
Wynne, E.A. (1991). Character and Academics in the Elementary School, in J.S. Benigna (ed). Moral Character and Civic Education in the Elementary School. New York: Teachers College Press.