Meski dalam Islam wanita tidak dianjurkan menjadi pemimpin. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga figure pemimpin besar yang yang lahir dari kaum hawa. Dan sebagian dari mereka notabene juga seorang muslimah.
Sebut saja Cut Nyak Dien pejuang kemerdekaan dari Aceh. Pejuang wanita ini dengan gigih berjuang untuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Meski beliau adalah seorang wanita akan tetapi sepak terjang beliau tidak dapat dipandang sebelah mata. Terbukti untuk dapat melumpuhkan beliau Belanda beserta antek – anteknya harus menggunakan tipu daya dengan memanfaatkan salah satu anak buah beliau. Dan pada saat itu pun Cut Nyak Dien sudah dalam keadaan renta dan buta.
Di Pakistan kita mengenal PM Benazir Buto. Kegigihan dan keuletan beliau dalam memperjuangkan prinsip – prinsiup yang dianutnya demi kesejahteraan rakyatnya membuatnya tak bergeming meski harus merasakan penjara, penolakan, cercaan , kegagalan dan tekanan dari pihak oposisi ( lawan politik ). Pun meski pada akhirnya sepak terjang beliau harus berakhir, disebabkan sebuah insiden penembakan gelap yang merenggut nyawanya.
Bila kita kembali lagi ke tanah air maka perempuan negeri ini tak akan pernah bisa melupakan jasa RA Karttini . Penggagas pertama kesejajaran hak wanita dengan pria terutama dalam hal memperoleh pendidikan yang layak juga hak untuk dapat berkontribusi bagi khalayak banyak dengan tanpa meninggalkan kodratnya. Meski beliau lahir dari kalangan bangsawan yang terpelajar , bukan berate perjuangan beliau tanpa menemui halangan berarti. Meski begitu RA Kartini tak sedikit pun surut bertekad memajukan kaumnya. Hingga akhirnya beliau wafat saat melahirkan putra pertamanya.
Subkhanallah, dibalik kelembutan dan keteduhan mereka tersimpan potensi yang tidak kecil. Apakah itu ?
-
Wanita adalah pemimpin yang transformasional.
Yaitu pemimpin yang berorientasi pada pendukung, prinsip dan perubahan.
-
Berorintasi pada pendukung.
-
Memberdayakan para pendukung dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan masukan.
-
Lebih banyak bertindak sebagai mentor ( member petunjuk dan bimbingan kepada para pendukung untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan) ketimbang bersikap sebagai bos.
-
Memimpin dengan memberikan teladan kepemimpinan pada para pendukung melalui sikap dan tindakan mereka.
Contoh :
-
Cut Nyak Dien , berjuang umtuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan.
-
Cory Aquino, Presiden Filipina yang berjuang untuk mengembalikan kekuasan pada rakyat dan membentuk pemerintahan yang bersih dari KKN.
-
Berorientasi pada perubahan.
Tekanan social, budaya dan ekonomi mendorong wanita untuk menunjukkan prestasi dua kali lebih besar dari pada pria untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat sekitar. Para wanita seringkali harus mempersembahkan solusi yang luas bias, yaitu membawa “perubahan” signifikan bagi lingkungan mereka agar dapat diakui sebagai pemimpin.
Contoh :
Mary Eugenia Charles Perdana Menteri Republik Dominika berhasil memperbaiki ekonomi negaranya yang terpuruk slama masa prakemerdekaan. Sehingga dengan ini beliau bisa mempertahankan jabatannya selama tiga periode. Mary Eugenia Charles menduduki jabatannya tidak lama setelah Republik Dominika mendapat kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1978.
-
Berorientasi pada prinsip.
Umumnya wanita pemimpin bertindak dan mengambil keputusan lebih dikarenakan dorongan prinsip yang diperjuangkan . Bukan oleh kekuasaan yang diraih. Tidak heran jika mereka mempunyai daya tahan yang lebih lama juga toleransi yang lebih tinggi atas krisis dan masalah yang mungkon harus mereka hadapi dalam menjalankan tugas mereka.
Contoh :
-
Perdana Menteri Benazir Buto dari Pakista.
-
Ibu Teresa pejuang hak – hak kaum papa.
-
Wanita adalah pemimpin yang transaksional.
Yaitu pemimpin yang lebih mengedepankan pada kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim dan cenderung lebih bersikap terbuka.
-
Komunikasi
Diana Halpern, seoorang professor di bidang psikologi mengungkapkan bahwa wanita memiliki kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi dikarenakan wanita memiliki kemampuan berbahas lebih baik dari pada pria. Kata – kata mereka jadikan senjata ampuh untuk menyampaikan pendapat, member motivasi dan dorongan bagi anak buah. Mereka sadar kata – kata yang tepat memiliki kekuatan dahsyat untuk menggerakkan orang lain.
Contoh :
Isabela Peron dari Argentina dan Indira Gandi dari India dikenal efektif dalam menggunakan kemampuan bekomunikasi dan kekuatan kata – kata dalm memimpin.
-
Kerjasama Tim.
Dalam berperan sebagai pemimpin, para wanita enggan untuk bertindak sendiriian . Mereka banyak menggalang kerjasam dengan berbagai pihak untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Mereka sadar bahwa tujuan akan lebih mudah dicapai jika dilakukan dengan dukungan dari banyak pihak dan berbagai masalah yang dihadapi akan terasa lebih tingan jika di tanggunmg bersama.
Contoh :
Presiden Kumaratungga dari Sri Lanka senantiasa berusaha menggalang kerjasama dengan berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun dengan Negara – Negara tetangga. Dalam rangka membantu mengatasi masalah, menciptakan stabilitas di bidang ekonomi, politik dan sosial serta menciptakn perdamaian di tingkat regional dan internasional.
-
Terbuka.
Umumnya wanita pemimpin dalm melaksanakan tugas – tugas kepemimpinananya cenderung untuk bersikap terbuka dalam memberikan informasi dan tanggung jawab apada para pendukung mereka. Dengan keterbukaan ini mereka menanamkan “ kepercayaan “ pada para pendukung. Sehingga pada akhirnya umunya para pendukung menjadi loebih loyal pada wanita pemimpin mereka.
Contoh :
Aung San Suu Kyi, pemimpin para pejuang demokrasi dari Myanmar yang memiliki banyak pengikut dan pendukung setia karena keterbukaannya pada rakyat. Sikap ini memupuk kepercayaan rakyat akan ketulusan Aung San Suu Kyi dalam memperjuangkan nasib mereka.
Wallahu’alam Bishowab.
( Dy, dari berbagai sumber )
Mei 28, 2009 at 8:03 am
O ya? sepertinya ada beberapa pendapat nih. kalau saya pribadi setuju dengan … he2 mangilnya gimana nih?
Contohnya seperti cerita yang diangkat dalam film Wanita Berkalung Sorban. Sudah lihat?