“ Ah nggak ah kalau harus jadi ketua panitia acara family gathering besok. Aku nggak pede, aku kan nggak berbakat jadi pemimpin. ‘
Cetus Fanny ( bukan nama sebenarnya ) ketika ia ditunjuk oleh teman – teman kantornya menjadi ketua panitia acara family gathering karyawan kantornya yang akan dilaksanakan akhir bulan ini.
Benarkah bila kemampuan untuk memimpin hanya bisa dilakukan oleh orang – orang tertentu saja. Yaitu mereka yang notabene” dinilai “ memiliki bakat memimpin ?
Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, membentuk karakter yang kokoh, dan ketika setiap ucapan serta tindakannya mulai memberikan pengaruh pada lingkungannya, dan keberadaannya mendorong perubahan dalam komunitasnya, pada saat itulah seseorang telah lahir menjadi pemimpin sejati.Jadi pemimpin bukanlah sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesutau yang tumbuh dan berkembang dari diri seseorang. Setiap orang mempunyai kapasitas menjadi pemimpin, baik bagi dirinya , keluarganya, lingkungan pekerjaan maupun lingkungan social dan bahkan bagi negaranya.
Rasulullah Saw bersabda :
“ Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. “
( HR. Bukhari Muslim )
Ya, setiap jiwa telah dinisbatkan menjadi pemimpin begitu ia dilahirkan. Sekarang tinggal bagaimana masing – masing pribadi mengelola potensi tersebut hingga benar – benar terbentuk menjadi karakter sorang pemimpin sejati.
How to do it ?
Berproses ( to be process ). Berproses untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik. Sebab kepemimpinana adalah sebuah tindakan nyata dan lebih merupakan hasil dari proses panjang perubahan dasn pengembangan ( Development Process ) karakter atau perubahan internal dalam diri seseorang.
Lalu hal – hal apa sajakah yang musti dipelajari ?
Demi mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimiliki tidak cukup sekedar dengan memiliki kemampuan inteketual mengenai kepemimpinan. Harus ada keseimbangan antara kemampuan intelektual ( IQ = Intelectual Qoutien/ Kecerdasan inteletual ) dengan kepemilikan karakter pribadi yang baik yang dibangun dari pengembangan kualitas kemapuan emosional ( EQ = Emotional Quotient/ Kecerdasan emosi ) dan spritial ( SQ = Spritual Quotien / Kecerdasan spiritual ) . Denga kata lain kita dituntut untuk belajar menyeimbangkan kemamapuan I(Q, EQ dan SQ.
Why ?
Dengan IQ kita bisa mencari solusi tepat terhadap masalah – masalah yang membutuhkan rasionalitas cara berfikir.( Berfikir dengan rasio ). Sementara EQ dibutuhkan untuk menghadapi masalah – masalh seputar interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain ( berbucara mengenai who ). Kedua kemapuan tersebutv akan lebih optimal bila ditunjang dengan SQ, kecerdasan spiritual yang menjadikan kita mampu memberi makana positif ( mengambil ibroh/ hikmah ) dari setiap peristiwa yang dialami. . Terlepas itu menyenangkan atau tidak. SQ berbicara mengenai why ( mengapa ) menelisik hal – hal yang melatar belakangi setiap keputusan tau tindakan yang diambil. Yaitu nilai – nilai kebenaran yang dijadikan pijakan.
Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Saw adalh figure pemimpin agung. Dimana segala apa yang ada pada diri beliau layak untuk diteladani.
‘ Sesungguhnya telah ada dalam “diri” Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu “. ( QS. Al Ahzab ; 21 )
Rasulullah Saw berhasil menyelaraskan kemampuan IQ, EQ, dan SQ yang terwujud dalam empat karakter kepemimpinan beliau . Yaitu :
1. Sidiq ( jujur dan berpihak pada kebenaran )
2. Amanah ( dapat dipercaya )
3. Fathonah ( cerdas berwawasan luas )
4. Tabligh ( menyampaikan amanah / kebenaran )
Adakah dari keempat hal tersebut yang tidak bisa kitra lakukan ?
Tidak bukan ?
Sesungguhnya semua potensi tersebut kita miliki juga. Sekarang, tinggal baiaman kita mengelolanya agar terwujud dalam keseharian kita .
Bagaimana caranya ?
Sidiq
Yaitu : sikap yang melandaskan segala sesuatu pada kebenaran, bersikap jujur.
Kita bisa berperilaku benar dan jujur bila diawali dengan niat yang “ lurus “ . Karena “ setiap dari kita kana mendapatkan apa yabf kita niatkan “ ( HR Bukhari Muslim )
Niat yang kuat dan “terjaga “ kana melahirkan keyakinan yang teguh. Keteguhan keyakinan membuat kita tak henti berusaha beryumbuh menjadi lebih baik mewujudkan apa yang telah dicita – citakan ( Visi dan misi hidup ). Ya, tidak ada yang tak mungkin selam kita mau berusaha dan yakin, Yakin akan potensi diri juga pertolongan dari Al Muqiit ( sang Maha Pemberi Kekuatan ).
Namun tidak dapat dipungkiri bila sebagai manusia biasa iman kita kadang “pasang “ tak jarang pula “surut”. Hingga untuk sekedar “bertahan pada rel yang seharusnya “ butuh perjuangan ekstra. Hal ini bisa diminimalisir dengan membangun kedekatan terhadap Al Haqq ( sang Maha Pemilik Kebenaran ) , tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitasnya. Sehingga rasa cinta serta kekagumaan pada- Nya memnuhi hati ini.
Dengan apa ?
Menjaga kualitas sholat fardhu kita, kualitas dan kuantitas tilawah kita, menemarakkan sepertiga malam dengan sholat lail berikut ibadah – ibadah sunah lainnya agar istiqomah.
Hati yang cenderung bersih yang terisi dengan rasa cinta pada-Nya akan mengendalikan gerakan seluruh anggota tubuh untuk melaqkukan perbuatan –perbuatan yang dicintai Allah Swt. Jujur dalam perkatanan, benar dalam sikap juga cara berfikir.
Bila sudah begini masihkah kita harus takut atau merasa tidak pede terhadap tanggung jawab yang akan dibebankan pada kita?
Saat kita berpihak pda kebenaran
Ketika ada kekuatan tak terbilang di belakang kita yang akan mendukung juga melindungi kita ?
Amanah
Pada dasarnya setiap yang melekat pada diri kita hakekatnya amanah yang harus dijaga. Amanah kan terjaga bila kita memiliki kesadaran penuh kana konsekuensi dari setiap pelanggran yang dilakukan. Sadr dan siap melaksanakan segala konsekuensi yang lahur dari perbuatan kita. Itulah tanggung jawab. Dalam amanah terselip tanggung jawab, tanggung jawab untuk menjaga juga menyampaikannya kepada yang berhak
Fatonah
Yaitu sikap cerdas, berwawasan luas dan trampil..
Untuk itu jadilah pembelajar sejati yang tak kan henti belajra tentang apa pun, dimanapun juga kapan pun. Terlepas pelajran itu menyenangkan sehingga kita termotivasi, bergairah serta bahagia karenanya. Atau sesuatu yang menyakitkan, perih bahkan pahit sehingga kita bisa merasakan proses belajaqr untuk bersabar dan ikhlas.
Sejarah telah menunjukkan bahwa figur – figur pemimpin besar dalam sejarah ( terkecuali Rasulullah Saw) adalah mereka yang mamapu mengendalikan didir ( berhasil memimpin diri sendiri ) dengan baik di masa – masa sulit.
Tabligh
Berupaya untuk menyampaikan informasi dengan baik dan benar. Untuk itu kita dituntut untuk membangun komunikasi yang efektif dengan menjadi pembicara yang baik ( A good speaker’s). Bagaimana melakukannya ?
- Menggunakan baqhasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh kedua belah pihak ( pembicara dan lawan bicara ).
- Berupaya untuk empati terhadap lawan bicara ( mempisiskan diri sebagaimana lawan bicara kita ).
- Menjadi pendengan yang baik dengan lebih memberikan keempatan kepada lawn bicara untuk mengungkapkan permasalahannya. Hingga ia merasa lega dan diperhatikan. Disisi lain kita pun jadi lebih banyak referensi untuk memberikan solusi yang tepat.
- Bersikap dan berfikiran terbuka terhadap apa pun, tidak berpihak pada salah satu pihak. Bersikap ramah dan hangat dalam menjalin kedekatan dengan siapapun .
Dy dari berbagai sumber.