<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Diyahfiles's Weblog</title>
	<atom:link href="http://diyahfiles.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diyahfiles.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Feb 2010 05:33:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='diyahfiles.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Diyahfiles's Weblog</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://diyahfiles.wordpress.com/osd.xml" title="Diyahfiles&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://diyahfiles.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TELAGA YANG LEBIH MENGHIDUPI</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2010/02/09/telaga-yang-lebih-menghidupi/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2010/02/09/telaga-yang-lebih-menghidupi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 05:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, bila setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan akhirnya dihadapan Anda kini terbentang telaga luas. Sekiranya apa yang akan Anda lakukan? Rehat sejenak, membasuh tangan, kaki juga wajah dengan air telaga tak ada salahnya. Kesegarannya sontak meluruhkan kepenatan. Bahkan  mengambil air telaga sebagai bekal menempuh sisa perjalanan barangkali menjadi sebuah pilihan bijak. Namun jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=37&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sahabat, bila setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan akhirnya dihadapan Anda kini terbentang telaga luas. Sekiranya apa yang akan Anda lakukan?</strong></p>
<p><strong>Rehat sejenak, membasuh tangan, kaki juga wajah dengan air telaga tak ada salahnya. Kesegarannya sontak meluruhkan kepenatan. Bahkan  mengambil air telaga sebagai bekal menempuh sisa perjalanan barangkali menjadi sebuah pilihan bijak. </strong></p>
<p><strong>Namun jika ternyata yang ada disekiling Anda hanya titik – titik air di dedaunan sisa hujan barusan, sementara Anda sudah cukup kehausan dan letih. Akankah titik – titik air itu menuntaskannya? Sejenak, mungkin. Tapi selanjutnya … </strong></p>
<p>Sahabat, kisah diatas dapat di<em>analog</em>kan dengan penyaluran zakat kita. Sepintas lalu memberikannya langsung pada mustahik terasa lebih afdol, plong. Ketimbang memanfaatkan pihak ketiga sebagai perantara dalam hal ini Lembaga Amil Zakat untuk mengelola zakat kita. Benarkah ?</p>
<p>Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa, pada suatau hari ketika Rasulullah bersama para sahabat, tiba – tiba datang seorang pengemis yang meminta sedekah kepadanya, beliau tidak langsung memberikan tetapi Rasulullah bertanya terlebih dulu. “Apakah engkau masih punya barang di rumah?” pengemis itu menjawab “ Ya Rasulullah saya tidak mempunyai  barang lagi di rumah selain sebuah guci yang sangat tua” . Selanjutnya Rasulullah  berkata, “ Sekarang bawa barang itu kemari”. Akhirnya pengemis itu  pun mengambil barangnya dan di bawa kepada Rasulullah.</p>
<p>Singkat cerita barang itu kemudian dilelang oleh Rasulullah kepada para sahabat.  Setelah laku terjual, Rasulullah  memberikan uang hasl penjualan tersebut kepada pengemis dengan ketentuan “ separuh dari uang ini untuk membeli kampak di pasar  dan pergunakanlah  untuk mencari kayu di hutan, lalu jualah ke pasar. Sehingga engkau punya pencaharian untuk menghidupi keluargamu. Dan setengahnya lagi belikan makanan  untuk jatah hari ini bagi keluargamu”</p>
<p>Sesuai dengan anjuran Rasulullah laki – laki itu membeli sebuah kampak dan makanan untuk keluarganya. Beberapa waktu kemudian laki &#8211; laki yang sebelumnya mengemis itu  mendatangi Rasulullah  dan berkata “ Ya, Rasulullah sesuai dengan yang telah engkau anjurkan,  saya sekarang sudah punya pekerjaan untuk mengidupi keluargaku, dan aku mampu menyisihkan sebagiannya untuk kepentingan keluargaku”</p>
<p>Ya, proses penyaluran zakat bukanlah melestarikan kemiskinan. Sehingga bila kali ini seorang mustahik (penerima zakat) menerima zakat, maka lain kali Ia diharapkan telah mampu mandiri, tidak menerima zakat lagi. Dana zakat mampu  membuat mustahik menjadi muzakki. Yang menjadi persoalannya sekarang  adalah mampukah  proses – proses ini dijalankan oleh masing – masing muzakki tanpa pihak ketiga (Lembaga Pengelola Zakat) yang membantu proses tersebut ? Tidak bukan ? Disinilah peran penting Lembaga Amil Zakat.</p>
<p>Sahabat, zakat yang Anda salurkan secara langsung pada mustahik ibarat titik – titik air didedaunan. Menyegarkan memang, namun sesaat, setelah tu? Dan benarkah bila proses itu hanya berhenti sampai disini (mustahik menerima zakat dari mampu mandiri.?</p>
<p>Para mustahik (penerima) zakat tidak cukup hanya diberi dana agar mamapu mandiri. Mereka juga perlu dibangun mentalitasnya, di motivasi dalam berusaha serta membangun visi masa depannya melalui upaya pendampingan. Sehingga dana zakat yang mereka terima bisa digunakan secara tepat untuk proses kemandirian mereka, mengentaskan diri dari kemiskinan. Tidak habis begitu saja untuk membeli aneka kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Dan fungsi fungsi pendampingan ini bisa dilakukan manakala zakat  sahabat sekalian  disalurkan melalui lembaga zakat.</p>
<p>Sementara bagi sahabat sekalian  yang telah mengamanahkan zakat agar dikelola oleh Lembaga Amil Zakat, maka secara langsung maupun tidak langsung Anda telah <em>mengisi </em>”<em>telaga luas yang menghidupi banyak hal (aspek</em>)”. Ketika dana – dana ini terkumpul dalam sebuah lembaga zakat, maka begitu banyak hal  yang dapat dilakukan untuk memberikan perubahan pada kaum dhuafa. Antara lain : sekolah gratis, rumah sakit gratis, dan pembangunan lembaga – lembaga perekenomian yang berpihak kepada dhuafa. Dengan kata lain manfaat yan bisa diberikan kepada mustahik tidak sebatas dana melainkan sesuatu yang jauh lebih penting yaitu pembinaan mentalitas untuk melakukan perubahan.</p>
<p>Disisi lain,  dengan menunaikan zakat lewat Lembaga Amil Zakat, disamping kita menunaikan kewajiban kita secara tidak langsung kita pun turut membukakan kesempatan bagi saudara – saudara kita yang bekerja di lembaga zakat untuk mendapatkan “kebaikan”  dengan bekerja  menyalurkan zaat kepada para mustahik.</p>
<p>Sedangkan bagi muzakki disamping lebih praktis dan mudah dalam menunaikan zakatnya dengan berzakat melalui lembaga,   daya guna dan nilai kemafaatan zakat akan lebih besar. Sebab  zakat teralokasikan secara lebih tepat menurut skala prioritas. Sehingga akan makin menambah pahala yang akan diterima. Insya Allah. Belum lagi tambahan pengetahuan tentang zakat serta bantuan untuk menghitung besar zakat yang dikeluarkan sehingga terhindar dari kesalahan.</p>
<p>Sahabat masihkah Anda menyukai “kesendirian” , ketika dengan kebersamaan justru membukakan begitu banyak pintu kebaikan bagi orang lain ?</p>
<p>(T. Widiyah. R, dari berbagai sumber )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=37&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2010/02/09/telaga-yang-lebih-menghidupi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INDAHNYA BERZAKAT</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2010/02/09/indahnya-berzakat/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2010/02/09/indahnya-berzakat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 05:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[“Bulan ini apa lagi yang musti di beli ya? Or Week end kali ini mau jalan ke mana? Hm … “ tiap kali kelebihan rizki menghampiri. Mengapa bukan “ Dari uang ini berapakah yang musti aku sisihkan untuk infak/ sodaqoh dan zakat ? Ya. Bebelanja untuk kebutuhan  pribadi memang terasa lebih nikmat ketimbang berbagi dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=35&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>“Bulan ini apa lagi yang musti di beli ya? Or Week end kali ini mau jalan ke mana? Hm … “ tiap kali kelebihan rizki menghampiri. Mengapa bukan “ Dari uang ini berapakah yang musti aku sisihkan untuk infak/ sodaqoh dan zakat ?</em></strong></p>
<p><strong><em>Ya. Bebelanja untuk kebutuhan  pribadi memang terasa lebih nikmat ketimbang berbagi dengan orang lain. Benar begitu sahabat ?</em></strong></p>
<p>Tak perlu sungkan untuk jujur pada diri sendiri. Sebab memang begitulah fitrah kita sebagai manusia. Selalu mengingikan lebh, lebih dan lebih. Yang jadi masalahnya sekarang adalah apakah segala kelebihan tersebut kelak menyertai kita saat maut menjemput?</p>
<p>Sahabat, sejatinya dalam harta yang Allah Swt titipkan kepada kita terkandung pula hak – hak orang lain. Sengaja Ia titipkan ini pada kita agar kita memiliki kesempatan untuk “ berbagi” kepada mereka yang membutuhkan. Atas segala kepedulian itu baik berupa infak, sodaqoh dan zakat, Allah Swt telah menyiapkan serangkain “ bonus “ yang dapat kita nikmati di dunia maupun sebagai bekal disaat kelak megahadap-Nya.</p>
<p>Zakat memliki posisi yang penting dalam Islam. Sebab zakat termasuk  dalam rukun Islam  dan hukumnya wajib (fardhu’ain) bagi yang mampu. Hingga bila hal ini dilalaikan otomatis keislamannya diragukan.</p>
<p><strong>Sebegitu pentingkah?</strong></p>
<p>“<em>Jika mereka bertobat, mendirkan shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudara- saudaramu seagama</em>” (QS. At Tawbah : 11). <em>Pungutlah zakat dar sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu  kamu membersihkan dan mensucikan mereka”</em> (QS. At Tawbah : 103).“<em>Dan apa yang kamu berikan  berupa zakat  yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang – orang yang melipatgandakan (pahalaya)</em> .(QS. Ar Rum : 39 )<em>“Dan orang – orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat  dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya; seseungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.</em> (QS. At Tawbah : 71)</p>
<p>Sahabat, memang secara matematis jumlah nominal harta kita akan berkurang karena dikeluarkan untuk zakat tetapi nilainya justru bertambah, karena keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar. Mengapa demikian? Karena harta itu akan menjadi bersih, kemudian berkah, lalu tumbuh dan berkembang, sebagaimana arti dari zakat itu, yang berasal dari kata”Zaka”, yaitu :Tumbuh dan Berkembang. Dan bukankah setiap orang menginginkan harta yang berkah, sehingga hidupnya nyaman, mudah, tentram serta terlindung dari kegelisahan dan kekhawatiran tak terkecuali sahabat sekalian?</p>
<p>Melalui zakat, Allah SWT menyucikan harta, dan menghendaki kebaikan untuk kehidupan manusia melalui syari’at-Nya, di antaranya agar tolong menolong, gotong royong, dan selalu menjalin persaudaraan. Adanya perbedaan harta, kekayaan dan status sosial dalam kehidupan adalah sunatullah yang tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Bahkan dengan adanya perbedaan status sosial itu kita memilik kesempatan untuk  saling berbagi dan menjalin silaturahim antara satu dengan lainnya. Alhasil zakat menjadi  salah satu instrumen paling efektif untuk menyatukan umat manusia dalam naungan kecintaan dan kedamaian hidupnya di dunia untuk menggapai kebaikan di akhirat</p>
<p>Dengan demikian, ketika sahabat sekalian telah menunaikan zakat berarti secra tidak langsung sahabat telah turut membangun tatanan yang lebih baik dengan memberikan hak-hak orang lain yang kebetulan dititipkan Allah Swt pada Anda, menegakkan Islam, dan menolong mereka yang lemah. Sebaliknya, bila tanpa sengaja sahabat telah meninggalkan kewajiban berzakat maka secara tidak langsung sahabat telah merusak tatanan sosial ekonomi, mengambil hak-hak orang lain, merobohkan Islam, dan tega membiarkan orang-orang lemah (dhu’afa) hidup dalam penderitaan dan kesusahan. Astaghfirullah. Tegakah engkau sahabat?</p>
<p>Bila ternyata  demikian( pilihan terakhir yang dipilih), maaf Allah Swt telah menyiapkan azab yang pedih di akhirat bagi mereka yang melalaikan zakat.</p>
<p>“…<em>Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu</em>.” (QS At-Taubah [9]: 34-35)</p>
<p>Tak ada salahnya  di akhir penuturan ini kita bercermin pada kisah seorang tabi’in benama Uwais Al−Qorni. Walaupun hidupnya tergolong miskin, dengan pakaian yang penuh tambalan dan bekerja hanya sebagai penggembala, tetapi Uwais mengatakan : Aku ini adalah penggembala dengan gaji 4 dirham, tapi semuanya tidak masuk ke perutku. Artinya adalah setiap kali Uwais menerima gaji, saat itu pula ia mengeluarkan sedekahnya untuk fakir miskin. Dalam sejarah kehidupan Uwais juga tercatat, dia biasa makan makanan yang diambil dari tempat sampah, setelah dibersihkan, lalu dibelahnya menjadi dua (2) bagian. Yang separuh dimakan dan sisanya disedekahkan. Subhanallah</p>
<p>Mari berzakat sahabat, jangan nodai hartamu</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>( T. Widiyah. R, dari berbagai sumber )</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=35&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2010/02/09/indahnya-berzakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Bagi Pahlawan</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/wanita-bagi-pahlawan/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/wanita-bagi-pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 03:13:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/wanita-bagi-pahlawan/</guid>
		<description><![CDATA[Siapakah yg pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu dan merasakan ketakutan yg luar biasa? Khadijah! Wanita bagi banyak pahlawan adalah booster spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan ghairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Lelaki menumpahkan energinya di luar rumah, dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya. Kekuatan besar yg dimiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=32&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Siapakah yg pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu dan merasakan ketakutan yg luar biasa? Khadijah!</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Wanita bagi banyak pahlawan adalah booster spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan ghairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Lelaki menumpahkan energinya di luar rumah, dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya.</p>
<p>Kekuatan besar yg dimiliki para wanita yg mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambat kapal, atau pohon rendang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yg luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kesederhanaan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi budak besar. Kerana di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan menyedut energi jiwa mereka.</p>
<p>Itu sebabnya Umar Al-Khattab mengatakan, “Jadilah engkau anak kecil di depan isterimu. Tetapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu”. Kekanakan dan keperkasaan, kesederhanaan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yg justeru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.</p>
<p>“Saya selamanya ingin menjadi budak besar yg sederhana,” kata Sayyid Qutb. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring di pangkuan isterinya.</p>
<p>Itulah keajaiban dan kesederhanaan. Kesederhanaan yg sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.portaninfaq.org/">www.portalinfaq.org</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=32&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/wanita-bagi-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akankah Kita Menjadi Pahlawan ?</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/akankah-kita-menjadi-pahlawan/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/akankah-kita-menjadi-pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 03:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/akankah-kita-menjadi-pahlawan/</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat sempatkah terpikir oleh Anda setiap hal yang Anda lakukan terhadap orang lain adalah sesuatu hal yang cukup berarti bagi mereka ? Sehingga Anda patut bangga karenanya sebab merasa telah berhasil menjadi pahlawan bagi mereka ? Atau … Sahabat sekalian merasa harus menjadi  figur “ besar “ terlebih dahulu untuk dapat melakukan  “tugas – tugas”  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=31&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sahabat sempatkah terpikir oleh Anda setiap hal yang Anda lakukan terhadap orang lain adalah sesuatu hal yang cukup berarti bagi mereka ? Sehingga Anda patut bangga karenanya sebab merasa telah berhasil menjadi pahlawan bagi mereka ?</em></p>
<p><strong>Atau …</strong></p>
<p><em>Sahabat sekalian merasa harus menjadi  figur “ besar “ terlebih dahulu untuk dapat melakukan  “tugas – tugas”  kepahlawanan ?</em></p>
<p>Hm … benarkah demikian ?</p>
<p>Menurut  KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia )  kata <em>pahlawan</em> memiliki arti : orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Namun .. kebenaran seperti apakah yang pantas diperjuangkan ?</p>
<p>Sebuah kerja akan  akan mendatangkan manfaat  serta kebahagiaan bagi orang lain  bila dilakukan berdasar pada “hati nurani “ . Klise memang, tapi ini fakta. Bagaimana tidak ? Kita mampu bertahan dalam garis kebenaran, tetap <em>concern </em>perihal etika serta moral dan peduli terhadap manusia dan kemanusiaan. Mengapa demikian ?</p>
<p>Karena nuranilah yang akan meredam “kegilaan” untuk disebut sebagai pahlawan. Dimana kita  mudah merasa menjadi seorang pahlawan setelah terkesan gagah ( meski sebenarnya picik) atau sibuk melakukan kerja – kerja “ besar “, namun sayang  tidak “pada tempatnya”. Sehingga bukan kemaslahatan yang didapat, tetapi sebaliknya.</p>
<p><strong>Seperti apakah sebenarnya sosok pahlawan itu ?</strong></p>
<p><em>“Para pahlawan…Mereka itu hanyalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya”</em></p>
<p>(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia, hal. xiii)</p>
<p>Ya, siapapun bisa menjadi pahlawan. Karena pahlawan sebenarnya hanyalah manusia biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa. Pahlawan mungkin gagal, tapi ia tak menyerah. Pahlawan mungkin terjatuh, tapi ia bangkit lagi. Ia tak mempedulikan semua itu. Baginya yang penting adalah ia berjuang dengan gagah berani –sama seperti yang definisi yang diberikan oleh KBBI.</p>
<p><strong>Lalu dimanakah mereka, para pahlawan itu ?</strong></p>
<p>Ada di sini. Coba sahabat, sekarang  lihat sebelah kanan dan kiri Anda, Kemudian  lihat ke dalam diri Anda. Bisa jadi pahlawan itu adalah Anda sendiri. Jangan menanti mereka. Jangan menunggu mereka. Seperti yang dikatakan Anis Matta, para pahlawan tidak akan datang. Para pahlawan itu bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan tumbuh di negeri ini. Mereka adalah saya, Anda, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu keluar dari <em>comfort zone</em> mereka, merebut takdir kepahlawanan mereka, dan mulai menghancurkan masalah demi masalah yang pelik dengan solusi-solusi cerdas mereka.</p>
<p><strong>Dan … sosok kepahlawanan seperti apakah yang layak kita jadikan panutan ?</strong></p>
<p>Mereka adalah figur – figur pahlawan spiritual. Hitler mungkin mampu membuat seluruh Eropa kecut dengan kekuatan militernya, tapi seorang Mahatmah Gandhilah yang mampu menyihir dunia dengan kekuatan spiritualnya, sampai-sampai ketika Gandhi wafat, orang-orang berkata bahwa “kebaikan” telah wafat. Gandhi tidak mempunyai harta. Berjalan pun dia kadang tidak memakai sandal. Namun, dia tidak memerlukan itu. Kekuatannya tidak terletak dalam kekuatan duniawi. Kekuatannya adalah kekuatan spiritual.</p>
<p>Para pahlawan seperti itulah yang seyogyianya kita ciptakan di dalam diri kita. Sama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang kurus kerempeng, tetapi sangat dicintai Rasulullah karena kepribadiannya. Di kala Islam mendapat ancaman pemberontakan setelah Rasul wafat, lelaki kurus kerempeng ini berubah menjadi singa yang ganas dan meradang di depan Umar yang terkenal garang, “<em>Demi Allah, sekiranya mereka tak hendak menyerahkan kepadaku tali-temali unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah, pastilah akan saya hadapi!</em>”</p>
<p>Bukan kekuasaan yang para pahlawan spiritual ini cari. Bukan pula kemewahan atau kekuasaan. Itu hanyalah semu bagi mereka. Tujuan mereka lebih dari itu. Jauh lebih agung dari itu. Tujuannya yang sebenarnya ada di balik fatamorgana itu: akhirat. Karena seperti kata Anis Matta, hanya ketika seorang pahlawan menetapkan misi hidupnya sebagai pemburu akhirat, ia akan sanggup melampaui dunia. Berjibakunya dirinya ketika menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini, pengorbanan maksimalnya untuk negeri ini, cucuran keringatnya ketika mencari solusi-solusi untuk negara ini, itu semua dilakukannya hanya untuk Rabb-Nya. Ia tak terlalu peduli apakah namanya akan dimasukkan ke dalam lembaran sejarah manusia atau tidak. Ia tak peduli akan dimakamkan di taman makam pahlawan atau tidak. Ia hanya peduli apakah namanya tercantum sebagai penduduk surga atau tidak.</p>
<p>Sanggupkan kita mengemban tugas ini?</p>
<p>Jawabannya berpulang pada masing – masing dari kita, Sahabat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=31&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/12/15/akankah-kita-menjadi-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Allah Swt Penentu Segala Sesuatu</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/11/01/allah-swt-penentu-segala-sesuatu/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/11/01/allah-swt-penentu-segala-sesuatu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 12:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali &#8211; kali tak ada pilihan bagi mereka &#8220; ( QS. Al Qasas : 68 ) &#8221; &#8230; dan bagi- Nyalah  segala penentu dan hanya kepada -Nyalah kamu dikembalikan &#8221; (QS. Al Qasas : 70 ) Ya,  manusia hanya bisa bekehendaksementara Allahlah yang menentukan. Sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=29&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8221; Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali &#8211; kali tak ada pilihan bagi mereka &#8220;</em></p>
<p>( QS. Al Qasas : 68 )</p>
<address>&#8221; &#8230; dan bagi- Nyalah  segala penentu dan hanya kepada -Nyalah kamu dikembalikan &#8221; </address>
<address>(QS. Al Qasas : 70 )</address>
<address>
</address>
<address><em>Ya,  manusia hanya bisa bekehendaksementara Allahlah yang menentukan. Sebagai makhlukNnya, kemampuan kita terbatas pada upaya mengontrl proses, bukan hasil. Bagaimana setiap tr5ahapan kehidup[an ini berproses sesuai dengan batasan &#8211; batasan dan berjalan dalm koridorNya. Hanya itu.</em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em>Hm &#8230; , bukan manusia namanya jika hatinya tidak mudah goyah. Acap kali meski jiwa ini tyelah tertata sedemikian rupa. berusaha menjaga kontinuitas kedekatan kita dengan sang pencipta. Tetap saja kadang &#8221; nge-down&#8221; juga bila  kelewat sering dihadapkan  pada  sesuatu yang berseberangan dengan keinginan. </em></address>
<address><em><br />
</em></address>
<address><em>Siapa yang tak akan jengah bila :</em></address>
<ul>
<li>
<address><em>Dengan sekuat tenaga meredam gejolak intern dikantor denga rasionalitas juga kesabaran dalam mengurai polemik yang ada hingga tuntas . . But dari  lini seberang ternyata ada pihak yan g memanfaatkan dengan &#8221; maksud &#8221; lain.</em></address>
</li>
<li>
<address><em>Di uji denga  ketidak nyamana yang tidak kunjung usai.</em></address>
</li>
<li>
<address><em>Targert &#8211; target yang telah tersusun matang lepas. Jauh menyimpang dari konsep semula.<br />
</em></address>
</li>
</ul>
<address>Kankah kita berlama &#8211; lama meratapi kondisi tersebut ?</address>
<address>Nei &#8230; nei &#8230; nei.</address>
<address>Lakukan apa yang kita bisa, mulailah dari apa yang paling mungkin kita lakukan, sekaligus cukup efektif menetralisir keadaan.Nggak ada gunanya sibuk curhat sana sini, nangis sampai mata ini sembab or tenggelam dalam histeria berkepanjangan.</address>
<address>Tidak ada manusia yang benar &#8211; benar tangguh hingga tanpa pernah mengeluh   . Atau &#8230;, luar biasa tegar  tanpa sretitikpun rasa gentar.</address>
<address>
</address>
<address>Lalu apa yang mesti dilakukan ?</address>
<ul>
<li>
<address>Kedepankan rasinalitas  bukan sensitivitas, sehingga tidak mudah menjadi panik.</address>
</li>
<li>
<address>Fokus pada apa yang sedang dikerjakan . bukan pada  hal yang nanti mungkin akan terjadi</address>
</li>
</ul>
<address>Barangkali  kita bisa merasakan sesuatu itu akan terjadi. namun bukan berafti kita lalu  benar &#8211; benar meyakininya akan terjadi berdasar pada analisa &#8211; analisa kita. Itu sam saja denga takabur, sok tahu banget sih dengan takdir kita.  Bisa saja yang dikhawatirkan tadi  tidak sepenuhnya terjadi, mengapa ?</address>
<address>
</address>
<address>Coz, takdir sepenuhnya milik Allah Swt sementara kita hanya menjalaninya. Hanya dengan ketulusan doa, takdir itu bisa berubah. So, sebelum takdir itu benar &#8211; benar &#8220;jatuh&#8221;  maka kewajiban kita adalah melaksanakan tugas &#8211; tugas kehidupan  kita dengan sebaik mungkin. Tak perlu ambil pusing  dengan apa yang kelak akan terjadi pada diri kita, itu sepenuhnya wewenangNya. Masa sih Allah Swt, akan menelantarkan hambanya yang bersungguh &#8211; sungguh? nggak banget kan ?</address>
<ul>
<li>
<address>Menjaga kedekatan dengan Allah Swt.</address>
</li>
</ul>
<address>Haruskah ?</address>
<address>Tentu, Bahan bakar utama dan terutama agar mampu bertahan dalam &#8220;masa &#8211; masa  sulit&#8221; tersebut adalah sabar dan ikhlas.Sabar menjadikan kita tidak cepat nebyerah mengurai kerumitan  yang ada. Ikhlas, membantu meringankan langkah ini mengemban segala yang diamanahkan.  And &#8230;.,  kesabaran serta keikhlasa hanya akan bersemi bila kedekatan dengan Allah terjaga.</address>
<address>
</address>
<address>Why? </address>
<address>Simple aja sih, kedekatan tersebut membuat kita yakin bahwa segala  apa yang terjadi pada kita adalah terbaik buat kita. Karena Dialah yang paling tahju ap[a yang kita butuhkan. Coz, ia yang menciptakan kita. </address>
<address>So, keep on spirit. Ok ?<br />
</address>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=29&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/11/01/allah-swt-penentu-segala-sesuatu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Pemimpin Itu Adalah Wanita</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/ketika-pemimpin-itu-adalah-wanita/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/ketika-pemimpin-itu-adalah-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:53:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Meski dalam Islam wanita tidak dianjurkan menjadi pemimpin. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga figure pemimpin besar yang yang lahir dari kaum hawa. Dan sebagian dari mereka notabene juga seorang muslimah. Sebut saja Cut Nyak Dien pejuang kemerdekaan dari Aceh. Pejuang wanita ini dengan gigih berjuang untuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Meski beliau adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=25&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="text-indent:.48in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Meski dalam Islam wanita tidak dianjurkan menjadi pemimpin.  Namun tidak dapat dipungkiri bahwa  banyak juga figure pemimpin besar yang yang lahir dari kaum hawa.  Dan sebagian dari mereka notabene juga seorang muslimah.</p>
<p style="text-indent:.48in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sebut saja Cut Nyak Dien pejuang kemerdekaan dari Aceh. Pejuang wanita ini dengan gigih  berjuang untuk membebaskan rakyatnya  dari penjajahan.  Meski beliau adalah seorang wanita akan tetapi sepak terjang beliau tidak dapat dipandang sebelah mata. Terbukti untuk dapat melumpuhkan beliau Belanda beserta antek – anteknya harus menggunakan tipu daya dengan memanfaatkan salah satu anak buah beliau. Dan pada saat itu pun Cut Nyak Dien sudah dalam keadaan renta dan buta.</p>
<p style="text-indent:.48in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di Pakistan kita mengenal PM Benazir Buto. Kegigihan dan keuletan beliau dalam memperjuangkan prinsip – prinsiup yang dianutnya demi kesejahteraan rakyatnya  membuatnya tak bergeming meski harus merasakan penjara, penolakan, cercaan , kegagalan  dan tekanan dari pihak oposisi ( lawan politik ).  Pun meski pada akhirnya sepak terjang beliau harus berakhir,    disebabkan  sebuah insiden penembakan gelap yang merenggut nyawanya.</p>
<p style="text-indent:.48in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Bila kita kembali lagi ke tanah air maka perempuan negeri ini tak akan pernah bisa melupakan jasa RA Karttini . Penggagas pertama kesejajaran hak wanita dengan pria terutama dalam hal memperoleh pendidikan yang layak  juga  hak untuk dapat berkontribusi  bagi khalayak banyak dengan tanpa meninggalkan kodratnya. Meski beliau lahir dari kalangan bangsawan yang terpelajar , bukan berate perjuangan beliau tanpa menemui halangan berarti. Meski begitu RA Kartini tak sedikit pun surut bertekad  memajukan kaumnya. Hingga akhirnya beliau wafat saat melahirkan putra pertamanya.</p>
<p style="text-indent:.48in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Subkhanallah, dibalik kelembutan dan keteduhan mereka tersimpan potensi yang tidak kecil. Apakah itu ?</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Wanita 	adalah pemimpin yang transformasional.</p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu pemimpin yang berorientasi  pada pendukung, prinsip dan perubahan.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Berorintasi 	pada pendukung.</p>
</li>
</ol>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memberdayakan 	para pendukung dengan  memberikan  kesempatan kepada mereka  untuk 	memberikan masukan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Lebih 	banyak bertindak sebagai mentor ( member petunjuk dan bimbingan  	kepada para pendukung untuk melakukan  pekerjaan yang ditugaskan) 	ketimbang bersikap sebagai bos.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Memimpin 	dengan memberikan teladan kepemimpinan  pada para pendukung  melalui 	 sikap dan tindakan mereka.</p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Contoh :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Cut 	Nyak Dien , berjuang umtuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Cory 	Aquino, Presiden Filipina yang berjuang untuk mengembalikan kekuasan 	pada rakyat dan membentuk pemerintahan yang bersih dari KKN.</p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Berorientasi 	pada perubahan.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.53in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tekanan social, budaya  dan ekonomi  mendorong wanita  untuk menunjukkan prestasi  dua kali lebih besar dari pada pria  untuk mendapatkan perhatian dari  masyarakat sekitar. Para wanita seringkali harus mempersembahkan  solusi yang luas bias, yaitu membawa “perubahan” signifikan  bagi lingkungan mereka agar dapat diakui sebagai pemimpin.</p>
<p style="margin-left:.53in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Contoh :</p>
<p style="margin-left:.53in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mary Eugenia Charles Perdana Menteri Republik Dominika berhasil memperbaiki ekonomi negaranya yang terpuruk  slama masa prakemerdekaan. Sehingga dengan ini beliau bisa mempertahankan jabatannya selama tiga periode.  Mary Eugenia Charles menduduki jabatannya tidak lama setelah Republik Dominika mendapat kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1978.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Berorientasi 	pada prinsip.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Umumnya wanita pemimpin bertindak dan mengambil keputusan lebih dikarenakan dorongan prinsip yang diperjuangkan . Bukan oleh kekuasaan yang diraih.  Tidak heran jika mereka mempunyai daya tahan yang lebih lama  juga toleransi yang lebih tinggi  atas krisis dan masalah yang mungkon harus mereka hadapi dalam menjalankan tugas mereka.</p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Contoh :</p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Perdana 	Menteri Benazir Buto dari Pakista.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ibu 	Teresa pejuang hak – hak kaum papa.</p>
</li>
</ul>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Wanita 	adalah pemimpin yang transaksional.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yaitu pemimpin yang lebih mengedepankan pada kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim dan cenderung lebih bersikap terbuka.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Komunikasi</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Diana Halpern, seoorang professor di bidang psikologi mengungkapkan bahwa wanita memiliki  kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi dikarenakan wanita  memiliki kemampuan berbahas  lebih baik dari pada pria. Kata – kata mereka jadikan  senjata ampuh  untuk menyampaikan pendapat, member motivasi dan dorongan bagi anak buah. Mereka sadar kata – kata yang tepat memiliki kekuatan dahsyat  untuk menggerakkan orang lain.</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Contoh :</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Isabela Peron dari Argentina dan Indira Gandi dari India dikenal efektif  dalam menggunakan  kemampuan bekomunikasi dan kekuatan kata – kata dalm memimpin.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kerjasama 	Tim.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam berperan sebagai pemimpin, para wanita enggan untuk bertindak sendiriian . Mereka banyak menggalang kerjasam  dengan berbagai pihak untuk mencapai visi dan misi  yang telah ditetapkan. Mereka sadar bahwa tujuan akan lebih mudah dicapai jika dilakukan dengan dukungan dari banyak pihak dan berbagai masalah yang dihadapi  akan terasa lebih tingan  jika di tanggunmg bersama.</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Contoh :</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Presiden Kumaratungga dari Sri Lanka senantiasa berusaha menggalang kerjasama dengan berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun dengan Negara – Negara tetangga. Dalam rangka membantu mengatasi masalah, menciptakan stabilitas di bidang ekonomi, politik dan sosial serta menciptakn  perdamaian di tingkat regional dan internasional.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Terbuka.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Umumnya wanita pemimpin dalm melaksanakan tugas – tugas kepemimpinananya cenderung untuk bersikap terbuka dalam memberikan informasi dan tanggung jawab apada para pendukung mereka. Dengan keterbukaan ini mereka menanamkan “ kepercayaan “  pada para pendukung. Sehingga pada akhirnya umunya para pendukung menjadi loebih loyal pada wanita pemimpin mereka.</p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Contoh :</p>
<p style="margin-left:.5in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Aung San Suu Kyi, pemimpin para pejuang demokrasi  dari Myanmar yang memiliki banyak pengikut dan pendukung setia karena keterbukaannya pada rakyat. Sikap ini memupuk kepercayaan rakyat  akan ketulusan Aung San Suu Kyi dalam memperjuangkan nasib mereka.</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Wallahu’alam Bishowab.</p>
<p style="margin-left:.49in;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">( Dy, dari berbagai sumber )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=25&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/ketika-pemimpin-itu-adalah-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>To Be A Good Leader</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/to-be-a-good-leader/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/to-be-a-good-leader/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[“ Sebaik baiknya  pemimpin kamu adalah mereka  yang kamu cintai dan mereka pun mencintai kamu,kamu menghormati mereka dan mereka menghormati kamu.  Sejelak jelek pemimpin kamu adalahmereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepadamu, kamu melaknat mereka dan mereka juga melaknanat kamu. “ ( Al Hadist ). Insyallah beberapa hal berikut ini  bisa menjadi acuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=23&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">“ <em>Sebaik baiknya  pemimpin kamu adalah mereka  yang kamu cintai dan mereka pun mencintai kamu,kamu menghormati mereka </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>dan mereka menghormati kamu.  Sejelak jelek pemimpin kamu adalahmereka yang kamu benci </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>dan mereka pun benci kepadamu, kamu melaknat mereka dan mereka juga melaknanat kamu. “</em><br />
( Al Hadist ).</p>
<p style="text-align:left;">
<p>Insyallah beberapa hal berikut ini  bisa menjadi acuan bagi kita untuk belajar menjadi pemimpin yang baik.</p>
<p>1.<strong> Jujur.</strong></p>
<p>Seorang pemimpin yang baik menunjukkan ketulusan, integritas dan keterbukaan dalam setiap tindaknnya.<br />
2.    <strong>Kuat dan amanah </strong><br />
Kuat di sisni lebih kepada  ketangguhan fisik, mental dan spritiual.. Pelaksanaan tugas –tugas kepemimpinanan akan sanata ditunjang dengan kebugaran fisik.Disisi lain  pemimpin juga dituntut  untuk bisa bersikap tegar  terhadap segala kesulitan yang dihadapi. bersikap tenan, penuh percaya diri memberikan motivasi juga inspirasi  kepada bawahan  untuk terus berkinerja positif mewujudkan tujuan. Dan hany dengan spiritualitas yang terjaga  pulalah sikap mental yang tangguh  dapat ditumbuhkan.<br />
Amanah dibangun dengan kompetensi dan profesionalitas. Mengedepankan rasioanalitas cara berfikir ketika berhadapan dengan apaun  serta dalam situasi yang bagaimanapun.<br />
3.    <strong>Berpandangan kedepan ( visioner )  dan menetapkan tujuan ( visi dan misis ) yang jelas . </strong><br />
Dalam menetapkan tujuan pemimpin perlu menanamkan pemikiran bahwa tujuan tersebut adalah milik organisasi secara keseluruhan. Mengetahui apa yang diinginkan  serta bagaimana cara  untuk mendapatkannya. Menetapkan  prioritas berdasarkan  nilai dasar yang dianut dalam  organisasi tersebut.   Menginspirasi bawahan  untuk berkarya lebih baik.</p>
<p><strong><br />
4.    Cerdas</strong><br />
Menjadi pembelajar sejati  yang terus meng up grade diri  untuk bertumbuh menjadi lebih baik.<br />
5.    <strong>Bijak serta adil.</strong><br />
Berupaya untuk  menempatkan segala sesuatu  pada porsinya yang tepat.  Memiliki sikap empati. Sehingga peka terhadap  perasaan, nilai – nilai, minat  serta keberadaan orang lain.<br />
6.    <strong>Berfikir luas.</strong><br />
Terbuka terhadap segala perbedaan. Tidak memiliki kecenderungan pada salah satu pihak saja.<br />
7.   <strong> Monitoring </strong><br />
Memonitor terhadap tugas – tugas  yand telah didelegasikan  pada bawahan. Sampai dimana tingkat pencapaian, terdapat kendala atau tidak. Sehingga segala kemungkinana dapat diantisipasi  lebih awal dan dapat diselesaikan tepat pada waktunya.<br />
8.  <strong> Evaluasi </strong><br />
Melakukan evaluasi secara berkala  terhadap kinerja bawahan . Ini penting dilakukan  untuk  memberikan masukan berarti bagi kemajuan organisasi/ perusahaan.<br />
9.   <strong> Membangun komunikasi yang efektif. </strong><br />
( Lebih jelasnya baca : how to good speaker’s )<br />
10.    <strong>Mengembangkan ketrampilan tim  dengan mengadakan pelatihan – pelatihan  secara berkala. Sebagai jawaban atas semakaintingginya  persaingan dalam dunia kerja.</strong></p>
<p>11.   <strong> Bisa menempatkan diri </strong><br />
Ada kalanya seorang pemimpin harus turun tangan  bila bawahan  memerlukan  bantuan ( disaat – saat genting ) dan tak ada alasan  untuk menolaknya. Bimbing bawahan menuju sukses.</p>
<p style="text-align:center;">
‘ <em>Keberhasilan seorang peminpin sangata bergantung dari kemampuan untuk membangun  orang – orang  disekitarnya,</em></p>
<p style="text-align:left;"><em> karena keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut “</p>
<p>( John Maxwell, in Developing The Leaders Araund You : 2000 ) </em></p>
<p>Dy  : Dari berbagai sumber.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=23&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/to-be-a-good-leader/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Benih Kepemimpinan Itu Bersemi</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/agar-benih-kepemimpinan-iru-bersemi/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/agar-benih-kepemimpinan-iru-bersemi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[“ Ah nggak ah kalau harus jadi ketua  panitia acara family gathering besok. Aku nggak pede, aku kan nggak berbakat jadi pemimpin. ‘ Cetus Fanny ( bukan nama sebenarnya ) ketika ia ditunjuk oleh teman – teman kantornya menjadi ketua panitia acara family gathering karyawan kantornya yang akan dilaksanakan akhir bulan ini. Benarkah bila kemampuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=20&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“ <em>Ah nggak ah kalau harus jadi ketua  panitia acara family gathering besok. Aku nggak pede, aku kan nggak berbakat jadi pemimpin.</em> ‘<br />
Cetus Fanny ( bukan nama sebenarnya ) ketika ia ditunjuk oleh teman – teman kantornya menjadi ketua panitia acara family gathering karyawan kantornya yang akan dilaksanakan akhir bulan ini.</p>
<p><strong>Benarkah bila kemampuan untuk memimpin hanya bisa dilakukan oleh orang – orang tertentu saja. Yaitu mereka yang notabene” dinilai “  memiliki bakat memimpin ?</strong><br />
Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, membentuk karakter yang kokoh, dan ketika setiap ucapan serta tindakannya mulai memberikan pengaruh pada lingkungannya,  dan keberadaannya mendorong perubahan dalam komunitasnya, pada saat itulah seseorang telah lahir menjadi pemimpin sejati.Jadi pemimpin bukanlah sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesutau yang tumbuh dan berkembang dari diri seseorang. Setiap orang mempunyai kapasitas menjadi pemimpin, baik bagi dirinya , keluarganya, lingkungan pekerjaan maupun lingkungan social dan bahkan bagi negaranya.<br />
Rasulullah  Saw bersabda :<em><br />
“ Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. “</em><br />
( HR. Bukhari Muslim )<br />
Ya, setiap jiwa telah dinisbatkan menjadi pemimpin begitu ia dilahirkan. Sekarang tinggal bagaimana  masing &#8211; masing pribadi mengelola potensi tersebut hingga benar – benar terbentuk menjadi karakter sorang pemimpin sejati.<br />
How to do it ?<br />
Berproses ( to be process ). Berproses untuk terus bertumbuh menjadi lebih baik. Sebab kepemimpinana adalah sebuah tindakan nyata dan lebih merupakan hasil dari proses panjang perubahan dasn pengembangan  ( Development Process )  karakter atau perubahan internal dalam diri seseorang.</p>
<p><strong>Lalu hal – hal apa sajakah yang musti dipelajari ?</strong><br />
Demi mengembangkan potensi kepemimpinan yang dimiliki tidak  cukup sekedar  dengan memiliki kemampuan inteketual  mengenai kepemimpinan. Harus ada keseimbangan antara kemampuan intelektual ( IQ = Intelectual Qoutien/ Kecerdasan inteletual ) dengan kepemilikan karakter pribadi  yang baik yang dibangun  dari pengembangan  kualitas  kemapuan emosional ( EQ = Emotional Quotient/ Kecerdasan emosi )  dan spritial ( SQ = Spritual Quotien / Kecerdasan spiritual ) . Denga kata lain kita dituntut untuk belajar menyeimbangkan kemamapuan I(Q, EQ dan SQ.</p>
<p><strong>Why ?</strong><br />
Dengan IQ  kita bisa mencari solusi tepat  terhadap masalah – masalah  yang membutuhkan rasionalitas cara berfikir.( Berfikir dengan rasio ). Sementara EQ dibutuhkan untuk menghadapi masalah – masalh  seputar  interaksi dan berkomunikasi  dengan orang lain ( berbucara mengenai who ).  Kedua kemapuan tersebutv akan lebih optimal bila ditunjang dengan SQ,  kecerdasan spiritual yang menjadikan kita  mampu memberi makana positif  ( mengambil ibroh/ hikmah )  dari  setiap peristiwa yang dialami. . Terlepas itu menyenangkan atau tidak.  SQ berbicara mengenai why ( mengapa ) menelisik hal  &#8211; hal yang melatar belakangi setiap keputusan tau tindakan  yang diambil. Yaitu nilai – nilai kebenaran  yang dijadikan pijakan.<br />
Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Saw adalh figure pemimpin agung.  Dimana segala apa yang ada pada diri beliau layak untuk diteladani.<br />
<em>‘ Sesungguhnya  telah ada dalam “diri” Rasulullah itu  suri tauladan yang baik bagimu  “. </em>( QS. Al Ahzab ; 21 )<br />
Rasulullah Saw berhasil menyelaraskan kemampuan IQ, EQ, dan SQ yang terwujud dalam empat karakter kepemimpinan beliau . Yaitu :<br />
1.    Sidiq ( jujur dan berpihak pada kebenaran )<br />
2.    Amanah ( dapat dipercaya )<br />
3.    Fathonah ( cerdas berwawasan luas )<br />
4.    Tabligh ( menyampaikan  amanah / kebenaran )</p>
<p>Adakah dari keempat hal tersebut yang tidak bisa kitra lakukan ?<br />
Tidak bukan ?<br />
Sesungguhnya semua potensi tersebut kita miliki juga.  Sekarang, tinggal baiaman kita mengelolanya agar terwujud dalam keseharian kita .<br />
Bagaimana caranya ?<br />
<strong>Si</strong><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"><strong>diq</strong><br />
Yaitu : sikap yang melandaskan  segala sesuatu  pada kebenaran, bersikap jujur.<br />
Kita bisa berperilaku benar dan jujur bila diawali dengan niat yang “ lurus “ . Karena “ setiap dari kita kana mendapatkan apa yabf kita niatkan “ ( HR Bukhari Muslim )<br />
Niat yang kuat dan “terjaga “  kana melahirkan keyakinan yang teguh. Keteguhan keyakinan membuat kita tak henti berusaha beryumbuh menjadi lebih baik  mewujudkan apa yang telah dicita – citakan (  Visi dan misi hidup ). Ya, tidak ada yang tak mungkin selam kita mau berusaha dan yakin, Yakin akan potensi diri juga pertolongan dari Al Muqiit ( sang Maha Pemberi Kekuatan ).<br />
Namun tidak dapat dipungkiri  bila sebagai manusia biasa iman kita kadang “pasang “ tak jarang pula “surut”. Hingga untuk sekedar “bertahan pada rel yang seharusnya “ butuh perjuangan ekstra. Hal ini bisa diminimalisir  dengan membangun kedekatan terhadap Al Haqq ( sang Maha Pemilik Kebenaran ) , tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitasnya. Sehingga rasa cinta serta kekagumaan pada- Nya memnuhi hati ini.<br />
Dengan apa ?<br />
Menjaga kualitas sholat fardhu kita, kualitas dan kuantitas tilawah kita, menemarakkan sepertiga malam dengan sholat lail berikut ibadah – ibadah sunah lainnya agar istiqomah.<br />
Hati yang cenderung bersih  yang terisi dengan rasa cinta pada-Nya akan mengendalikan gerakan seluruh anggota tubuh  untuk melaqkukan perbuatan –perbuatan yang dicintai Allah Swt.  Jujur dalam perkatanan, benar dalam sikap juga cara berfikir.<br />
Bila sudah begini masihkah kita harus  takut atau merasa tidak pede  terhadap tanggung jawab yang akan dibebankan pada kita?<br />
Saat kita berpihak pda kebenaran<br />
Ketika ada kekuatan tak terbilang  di belakang  kita yang akan mendukung juga melindungi kita ?</ins></p>
<p><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"><br />
<strong>Amanah</strong><br />
Pada dasarnya setiap yang melekat pada diri kita hakekatnya  amanah yang harus dijaga. Amanah kan terjaga bila kita memiliki kesadaran penuh kana konsekuensi dari setiap pelanggran yang dilakukan. Sadr dan siap melaksanakan segala konsekuensi  yang lahur dari perbuatan kita. Itulah tanggung jawab.  Dalam amanah terselip tanggung jawab, tanggung jawab untuk menjaga juga menyampaikannya kepada yang berhak</ins></p>
<p><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"><br />
<strong>Fatonah</strong><br />
Yaitu sikap cerdas, berwawasan luas dan trampil..<br />
Untuk itu jadilah pembelajar sejati yang tak kan henti belajra tentang apa pun, dimanapun juga kapan pun. Terlepas pelajran itu menyenangkan  sehingga kita termotivasi,  bergairah serta bahagia karenanya. Atau sesuatu yang menyakitkan, perih bahkan pahit sehingga kita bisa merasakan proses belajaqr untuk bersabar dan ikhlas.<br />
Sejarah telah menunjukkan bahwa figur – figur pemimpin besar dalam sejarah ( terkecuali  Rasulullah Saw) adalah mereka yang mamapu mengendalikan didir ( berhasil memimpin diri sendiri ) dengan baik di masa – masa sulit.</ins></p>
<p><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"><br />
<strong>Tabligh</strong><br />
Berupaya untuk menyampaikan informasi dengan baik dan benar.  Untuk itu kita dituntut untuk membangun komunikasi yang efektif dengan  menjadi  pembicara yang baik ( A good speaker’s). Bagaimana melakukannya ?<br />
</ins></p>
<ul>
<li><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"> Menggunakan baqhasa yang sederhana dan mudah dimengerti  oleh kedua belah pihak ( pembicara dan lawan bicara ).</ins></li>
<li><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"> Berupaya untuk empati terhadap lawan bicara ( mempisiskan diri sebagaimana lawan bicara kita ).</ins></li>
<li><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"> Menjadi pendengan yang baik  dengan lebih memberikan keempatan kepada lawn bicara  untuk mengungkapkan permasalahannya. Hingga ia merasa lega dan diperhatikan.  Disisi lain  kita pun  jadi lebih banyak referensi  untuk memberikan solusi yang tepat.</ins></li>
<li><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"> Bersikap  dan berfikiran terbuka  terhadap apa pun, tidak berpihak pada salah satu pihak. Bersikap ramah dan hangat dalam menjalin kedekatan dengan siapapun .</ins></li>
</ul>
<p><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00">Dy dari berbagai sumber.</ins></p>
<p><ins datetime="2009-05-28T07:31:09+00:00"></ins></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=20&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/05/28/agar-benih-kepemimpinan-iru-bersemi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanya Tuhan Tentang Jodoh</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/04/10/tanya-tuhan-tentang-jodoh/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/04/10/tanya-tuhan-tentang-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 10:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikiologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;&#8221;  Ya Rabb kalau ia memang jodohku  permudahlah kami  untuk bertemu. Bila tidak jauhkan ia dariku &#8220; Segala yang terjadi pada kita sebenarnya sudah digariskan oleh Allah Swt, sejak sebelum kita lahir. Apa pun itu termasuk dengan siapa kita berjodoh. Lalu mengapa itu dirahasiakan pada kita? Allah mencipatakan jin dan manusia tidak lain untuk beribadah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=16&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;&#8221;  Ya Rabb kalau ia memang jodohku  permudahlah kami  untuk bertemu. Bila tidak jauhkan ia dariku &#8220;</p>
<p>Segala yang terjadi pada kita sebenarnya sudah digariskan oleh Allah Swt, sejak sebelum kita lahir. Apa pun itu termasuk dengan siapa kita berjodoh.</p>
<p>Lalu mengapa itu dirahasiakan pada kita?</p>
<p>Allah mencipatakan jin dan manusia tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dan esensi dari ibadah adalah doa itu sendiri.Doa pula yang merupakan penghubung/ mediadialog anatara kita dengan Allah Swt. Kita menyampaikan segala keluh kesah  serta pengharapan kepada-Nya. Selanjutnya Ia akan bertindak yang terbaik untuk kita.Doa pula yang sanggup mengubah takdir. Mempersingkat ujian Allah Swt kepada kita. Juga menggugurkan segala dosa &#8211; dosa kita.</p>
<p>Satu &#8211; satunya pihak yang paling tahu siapa jodoh kita adalah Allah Swt. Jadi sayang sekali kalau kita tidak meminta kepada-Nya. Yang pasti ia yang terbaik buat kita ( Disesuaikan dengan kita ).</p>
<p>Ada sebuah cerita :</p>
<p>&#8221; Ada seseorang yang diberi kelebihan oleh Allah Swt sehingga ia dapat melihat takdirnya sendiri. Betapa terkejuttnya laki &#8211; laki itu setelah tahu bahwa ia kelak berjodoh dengan seorang perawan tua buruk rupa namun kaya raya. Bagaimana tidak, sekarang ia dikellilingi gadis &#8211; gadis cantik. Sebab ia adalah seorang pemuda tampan yang kaya raya.</p>
<p>Seriring   waktu, segalanya berputar 180 derajad. Oleh  suatu sebab usaha orang tuanya bangkrut dan ia jatuh miskin. Agar ia tetap bertahan hidup serta melanjutkan kuliahnya,  dengan terpaksa laki &#8211; laki itu kerja serabutan, apa saja yang penting halal.Sehingga wajah dan postur tubuhnya tak setampan dan segagah dulu. Praktis sekarang tak satu pun perempuan cantik yang mau bersamanya.</p>
<p>Kemudian sedikit demi sedikit kehidupan laki -laki tertersebut tertolong denga kehadiran perawan tua  buruk rupa tadi. Sebenarnya perempuan tua itu tak punya maksud sedikit pun dengan laki &#8211; laki itu. Ia membantunya selayaknya fakir miskin lainnya. Namun ketulusan dan budi baik perempuan itu meluluhkan hati laki &#8211; laki tersebut. Ia mencintai perawan tua itu karena kebaikan hatinya.</p>
<p>And now, apa yang mesti kita lakukan ?Allah Swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri merubahnya. Meski segala apa yang terjadi pada kita telah ditakdirkan oleh Allah Swt, namun tetap tidak bisa lepas dari hukum sebab akibat.</p>
<p>So, kita mesti :</p>
<p>1. Ikhtiar</p>
<p>Minta melalui perantara. InsyaAllah lebih aman dan baik. Sebab kita dipertemukan dengan orang yang sudah siap menikah dan satu prinsip dengan kita, selanjutnya tinggal Allah yang berkehendak.</p>
<p>2. Benahi diri buat prestasi. Yaitu dengan mempersiapkan diri menciptakan sesuatu yang menarik bagi diri kita. Bunga kalau wangi pasti dicari kumbang.</p>
<p>3. Memperluas silahturahmi.</p>
<p>sebut tertolong oleh</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=16&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2009/04/10/tanya-tuhan-tentang-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENGASUHAN AYAH-IBU YANG PATUT:</title>
		<link>http://diyahfiles.wordpress.com/2008/10/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut/</link>
		<comments>http://diyahfiles.wordpress.com/2008/10/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 06:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyahfiles</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikiologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyahfiles.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : http://muktiamini.blogspot.com/2008/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut.html PENDAHULUAN Ayah-ibu merupakan figur orang dewasa pertama yang dikenal anak sejak bayi. Selain kedekatan karena faktor biologis, anak biasanya cukup dekat dengan ayah-ibunya karena faktor intensitas waktu yang cukup banyak ia habiskan bersama mereka. Oleh karena itu, ayah-ibu mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak, termasuk dalam hal pengembangan karakter. Peran penting ayah-ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=12&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : <a href="http://muktiamini.blogspot.com/2008/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut.html" target="_blank">http://muktiamini.blogspot.com/2008/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut.html</a></p>
<p>PENDAHULUAN<br />
Ayah-ibu merupakan figur orang dewasa pertama yang dikenal anak sejak bayi. Selain kedekatan karena faktor biologis, anak biasanya cukup dekat dengan ayah-ibunya karena faktor intensitas waktu yang cukup banyak ia habiskan bersama mereka. Oleh karena itu, ayah-ibu mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan anak, termasuk dalam hal pengembangan karakter. Peran penting ayah-ibu ini memerlukan perencanaan dan tindak lanjut, agar ayah-ibu dapat melakukan pengasuhan yang patut bagi anak. Dalam hal pengembangan karakter, ayah-ibu juga berperan sangat signifikan sehingga ayah-ibu perlu belajar tentang pengasuhan yang mampu mengembangkan karakter yang baik bagi anak-anaknya.<span id="more-12"></span></p>
<p>Namun kenyataan tidak semudah teori. Suatu data penelitian menyebutkan bahwa dari 100 % orang tua, yang mampu dan sadar untuk bisa mendidik karakter anak tidak lebih dari 20 atau 30%. Selebihnya tidak memiliki kapasitas untuk mendidik anak (Yaumil dalam Harry, 2002). Banyak kasus kerusakan moral dan perilaku anak yang terjadi disebabkan pengaruh buruk dari pengasuhan ayah/ibu yang tidak patut. Selain itu, tantangan kehidupan modern yang ditandai dengan berbagai fenomena seperti: kedua orang tua (ayah-ibu) yang bekerja, derasnya arus informasi media cetak dan elektronik yang nyaris tanpa saringan, dan terpaparnya anak dengan pornografi; diduga juga berpengaruh signifikan terhadap pengembangan karakter anak. Berbagai tantangan tersebut makin menguatkan akan peran penting pengasuhan yang patut oleh ayah-ibu bagi pengembangan karakter anak. Agar ayah-ibu dapat mengembangkan karakter anak melalui pengasuhan yang patut, perlu disosialisasikan tentang pentingnya pengasuhan yang patut serta berbagai ilustrasi tentang cara ayah-ibu mengasuh anak secara patut. Salah satu bentuk sosialisasi tersebut adalah melalui seminar, pelatihan, atau penyebarluasan media edukatif untuk ayah-ibu.</p>
<p>Makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana sosialisasi tersebut. Pada makalah ini akan dibahas tentang hakikat pengembangan karakter, peran ayah-ibu bagi pengembangan karakter anak, pengasuhan ayah-ibu yang patut bagi pengembangan karakter anak, dan peran strategis ayah dalam mengembangkan karakter anak.</p>
<p>PEMBAHASAN</p>
<p>A. Hakikat Pengembangan Karakter<br />
Kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku (Wynne, 1991). Dalam bahasa Inggris, character bermakna hampir sama dengan sifat, perilaku, akhlak, watak, tabiat dan budi pekerti (Taryana &amp; Rinaldi, www.sd-binatalenta.com). Oleh karena itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek. Sementara orang yang berperilaku jujur atau suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter sangat berkaitan erat dengan personality (kepribadian), yang mana seseorang disebut orang yang berkarakter jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.</p>
<p>Ahli lain, Kurtus (1997), berpendapat bahwa karakter adalah satu set tingkah laku atau perilaku (behaviour) dari seseorang sehingga dari perilakunya tersebut, orang akan mengenalnya “ia seperti apa”. Menurutnya, karakter akan menentukan kemampuan seseorang untuk mencapai cita-citanya dengan efektif, kemampuan untuk berlaku jujur dan berterus terang kepada orang lain serta kemampuan untuk taat terhadap tata tertib dan aturan yang ada.</p>
<p>Sementara itu, Kilpatrick (1992) dan Lickona (1992) sebagai pencetus utama pendidikan karakter percaya adanya keberadaan moral absolute. Mereka meyakini bahwa nilai moral tidak hanya bersifat relatif tetapi juga ada nilai moral yang bersifat absolut yang bersumber dari berbagai agama di dunia. Moral absolut yang disebut the golden rule ini perlu diajarkan kepada generasi muda agar mereka paham betul mana yang baik dan benar, misalnya menanamkan sikap jujur, suka menolong orang, saling menghormati, dan bertanggung jawab.</p>
<p>Kaitannya dengan pendidikan moral, pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, namun juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga anak menjadi paham (domain kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domain afektif) nilai yang baik, lalu dapat melakukannya (domain psikomotor) (Martianto, dalam www.tumoutou.net).</p>
<p>Lebih lanjut, Lickona (1992) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yaitu pengetahuan tentang moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) ,dan perbuatan bermoral (moral action). Dalam hal moral knowing, terdapat enam hal sebagai tujuan diajarkannya pendidikan moral, yaitu kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai moral (knowing moral values), penerimaan perspektif (perspective taking), alasan tentang moral (moral reasoning), pengambilan keputusan (decision making) dan pemahaman diri (self-knowledge). Sementara pada moral feeling terdapat enam aspek emosi yang diharapkan dapat dicapai seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yaitu: kesadaran (conscience), harga diri (self-esteem), empati (empathy), menyukai kebaikan (loving the good), kontrol diri (self-control), dan kerendahan hati (humility). Sedangkan moral action merupakan hasil dari dua komponen karakter sebelumnya.</p>
<p>Ahli lainnya yaitu Megawangi (1999) sebagai pencetus pendidikan karakter di Indonesia telah menyusun karakter mulia yang selayaknya diajarkan kepada anak, yang disebut sebagai 9 pilar karakter yaitu: (1) cinta Tuhan dan kebenaran; (2) tanggungjawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) amanah dan kejujuran; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati; serta (9) toleransi, cinta damai dan persatuan.</p>
<p>Apakah karakter seseorang dapat dirubah? Rizal (dalam www.sahabatnestle.co.id) mengatakan bahwa karakter seseorang tidak dapat diubah, namun lingkungan dapat menguatkan atau memperlemah karakter tesebut. Oleh karena itu orang tua sebagai acuan pertama anak dalam membentuk karakter perlu dibekali pengetahuan mengenai perkembangan anak dengan melihat harapan sosial pada usia tertentu, sehingga anak akan tumbuh sebagai pribadi yanng berkarakter. Menurut Taryana dan Rinaldi (www.sd-binatalenta.com), karakter terbentuk dari proses meniru yaitu melalui proses melihat, mendengar dan mengikuti. Maka karakter sesungguhnya dapat diajarkan secara sengaja. Oleh karena itu seorang anak dapat memiliki karakter yang baik atau juga karakter buruk, tergantung sumber yang ia pelajari.</p>
<p>B. Peran Ayah-Ibu bagi Pengembangan Karakter Anak<br />
Pengembangan karakter anak merupakan upaya yang perlu melibatkan semua pihak, baik keluarga inti, keluarga batih (kakek-nenek), sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Jika antar berbagai unsur lingkungan pendidikan tersebut tidak harmonis maka pembentukan karakter pada anak tidak akan berhasil dengan baik. Pada keluarga inti, peranan utama pendidikan terletak pada ayah-ibu. Philips (dalam Nurokhim, www.tnial.mil.id) menyarankan bahwa keluarga hendaknya menjadi sekolah untuk kasih sayang (school of love), atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.</p>
<p>Menurut Gunadi (dalam www.skketapang.org), ada tiga peran utama yang dapat dilakukan ayah-ibu dalam mengembangkan karakter anak, yaitu sebagai berikut.<br />
Berkewajiban menciptakan suasana yang hangat dan tenteram. Tanpa ketenteraman, akan sukar bagi anak untuk belajar apapun dan anak akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan jiwanya. Ketegangan atau ketakutan adalah wadah yang buruk bagi perkembangan karakter anak.<br />
Menjadi panutan yang positif bagi anak sebab anak belajar terbanyak dari apa yang dilihatnya, bukan dari apa yang didengarnya. Karakter orangtua yang diperlihatkan melalui perilaku nyata merupakan bahan pelajaran yang akan diserap anak.<br />
Mendidik anak, artinya mengajarkan karakter yang baik dan mendisiplinkan anak agar berperilaku sesuai dengan apa yang telah diajarkannya.</p>
<p>Keluarga yang sehat dicirikan dengan keterlibatan ayah-ibu yang hangat dalam mengasuh dan mendidik anak, sehingga anak akan memiliki figur ayah-ibu yang seimbang serta memiliki hubungan emosional yang lebih kuat dengan ayah-ibunya. Jika ayah-ibu sering bertemu dan berdialog dengan anak, anak akan menghormati ayah-ibunya. Semakin besar dukungan ayah-ibu terhadap anak, semakin tinggi perilaku positif anak (www.bkkbn.go.id).</p>
<p>C. Pengasuhan Ayah-Ibu yang Patut bagi Pengembangan Karakter Anak.<br />
Widyawati (dalam www.sahabatnestle.co.id) memberikan beberapa petunjuk bagi ayah-ibu untuk mengembangkan karakter anak, yaitu: (1) memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak dan memahami bahwa setiap anak unik; (2) memenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan bernutrisi, rasa aman, dan nyaman; (3) memperhatikan pola pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah anak dan mencoba menyelaraskan pola tersebut dengan pola pengasuhan orang tua; (4) memberikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji; (5) memberikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya. Jika lingkungan sosial kurang baik, sebaiknya ayah-ibu memindahkan anak dari lingkungan tersebut; dan (6) bersikap tegas dan konsisten.</p>
<p>Sebaliknya, ada beberapa hal yang perlu dihindari ayah-ibu dalam mengembangkan karakter anak, yaitu: (1) memaksakan ambisi-ambisi pada anak, apalagi jika bertentangan dengan karakter dasar anak; (2) berkata atau berbuat kasar pada anak, karena berpotensi menimbulkan ketaatan sesaat dan kepribadian pemberontak; (3) tidak membanding-bandingkan anak; (4) tidak terlalu sering berganti-ganti pola asuh karena cenderung mempengaruhi kepribadian anak; dan (5) tidak melemahkan pola asuh dengan penganiayaan pada anak, baik secara verbal maupun fisik. Biasanya jika penganiayaan ini dilakukan orang tua, pada anak akan timbul sikap curiga berlebihan (skeptis), menarik diri, dan enggan menjalin komunikasi dengan orangtua.</p>
<p>Secara rinci, setidaknya terdapat 10 cara yang dapat dilakukan ayah-ibu untuk melakukan pengasuhan yang tepat dalam rangka mengembangkan karakter yang baik pada anak, yaitu sebagai berikut (Ryan, dalam www.charactered.net).<br />
Menempatkan tugas dan kewajiban ayah-ibu sebagai agenda utama.<br />
Pada jaman modern yang penuh persaingan hal ini cukup sulit dilakukan. Namun ayah-ibu yang baik akan secara sadar merencanakan dan memberikan waktu yang cukup untuk tugas keayahbundaan (parenting). Mereka akan meletakkan agenda pembentukan karakter anak sebagai prioritas utama.<br />
Mengevaluasi cara ayah-ibu menghabiskan waktu dalam sehari/seminggu.<br />
Ayah-ibu perlu memikirkan jumlah waktu yang ia lalui bersama anak-anak. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa jumlah waktu seorang ayah bersama anak sehari-harinya ternyata tidak lebih dari 19 menit (Risman, 2008). Ayah-ibu perlu merencanakan cara yang sesuai dalam melibatkan diri bersama anak-anak, melalui berbagai kegiatan sehari-hari seperti belajar bersama, makan bersama, mendongeng sebelum tidur, dan sebagainya.<br />
Menyiapkan diri sebagai contoh yang baik.<br />
Setiap anak memerlukan contoh yang baik dari lingkungannya. Ayah-ibu merupakan lingkungan terdekat yang paling banyak ditiru oleh anak, baik atau buruk. Hal ini tidak dapat dihindari, karena mereka sedang pada masa imitasi dan identifikasi. Menjadi contoh bagi anak merupakan pekerjaan utama yang harus dilakukan sebagai orang tua.<br />
Membuka mata dan telinga terhadap apa saja yang sedang mereka serap/alami.<br />
Anak-anak ibarat spons kering yang cepat menyerap air. Kebanyakan yang mereka serap adalah yang berkaitan dengan nilai-nilai moral dan karakter. Berbagai media seperti buku, lagu, film, TV, play station secara terus-menerus memberikan pesan pada anak dengan cara yang mengesankan, baik pesan yang bermoral maupun tidak bermoral. Oleh karena itu, ayah-ibu harus menjadi pengamat yang baik untuk menyeleksi berbagai pesan-pesan dari berbagai media yang digunakan anak.<br />
Menggunakan bahasa karakter.<br />
Anak-anak akan sulit mengembangkan karakternya kecuali jika orang tua menggunakan bahasa yang jelas dan lugas tentang tingkah laku baik dan buruk. Ayah-ibu perlu selalu menjelaskan pada anak tentang perbuatan yang boleh dan tidak boleh berikut alasannya.<br />
Memberikan hukuman dengan kasih sayang.<br />
Hukuman tidak identik dengan kekejaman. Banyak ayah-ibu yang kurang tepat dalam mempersepsikan hukuman ini, sedemikian menghindari sehingga cenderung memanjakan anak. Akibatnya anak menjadi pribadi yang sulit diatur. Anak-anak memerlukan batasan atau rambu-rambu yang jelas, dan kadang mereka melanggar batasan tersebut. Di sinilah arti penting dari hukuman. Hukuman yang mendidik merupakan salah satu cara manusia untuk belajar. Anak-anak perlu memahami bahwa jika ayah-ibu memberikan hukuman adalah karena ayah-ibu sayang pada mereka. Tentu saja dalam hal ini ayah-ibu juga perlu memahami dengan baik tentang syarat dan cara memberikan hukuman yang mendidik pada anak.<br />
Belajar untuk mendengarkan anak.<br />
Berkomunikasi yang efektif dengan anak bukanlah hal yang mudah. Salah satu hal yang kadang dilupakan ayah-ibu adalah meluangkan waktu untuk mendengarkan segala keluh kesah atau cerita anak. Dengan kesibukan ayah-ibu yang padat setiap harinya (apalagi jika keduanya bekerja), maka waktu senja dan malam hari saat bertemu anak-anak terkesan sebagai waktu sisa. Padahal, pada saat itu biasanya banyak sekali yang ingin disampaikan anak pada ayah-ibunya. Oleh karena itu, ayah-ibu perlu selalu mengalokasikan waktu untuk mendengarkan anak-anak. Selain itu, ayah-ibu perlu menegaskan agar anak-anak tahu bahwa apapun yang mereka ceritakan itu sangat penting dan menarik. Tentu hal ini harus selaras dengan sikap ayah-ibu sewaktu mendengarkan anak, misalnya dengan duduk sejajar mata anak, sambil memangku, atau mengobrol santai selepas makan malam; bukan mendengarkan sambil membaca koran atau menonton televisi.<br />
Terlibat dengan kehidupan sekolah anak.<br />
Sekolah merupakan bagian penting dalam kehidupan anak-anak. Bukan hanya mendapatkan kesenangan, selama di sekolah kadang anak juga menemukan berbagai permasalahan, kekecewaan, perselisihan pendapat, atau kekalahan. Ayah-ibu perlu membantu menyiapkan anak untuk menghadapi semua hal tersebut. Jika anak berhasil melalui berbagai masalahnya di sekolah, karakter anak juga akan makin kokoh dan anak makin percaya diri menatap masa depan.<br />
Selalu mengadakan makan bersama.<br />
Meskipun sibuk, ayah-ibu perlu meluangkan waktu untuk makan bersama dengan seluruh keluarga, setidaknya sekali dalam sehari (makan pagi atau malam hari). Makan bersama merupakan sarana yang baik untuk berkomunikasi dan menanamkan nilai yang baik. Melalui percakapan ringan saat makan, anak tanpa sadar akan menyerap berbagai peraturan dan perilaku yang dikehendaki.<br />
Tidak mendidik karakter melalui kata-kata saja.<br />
Ayah-ibu perlu membantu mengembangkan karakter yang baik melalui contoh tentang berbagai sikap dan kebiasaan baik seperti tentang kedisiplinan, hormat, santun, tolong-menolong, dan lain-lain. Karakter anak tidak akan berkembang baik jika hanya melalui nasehat ayah-ibu saja. Pondasi dalam pengembangan karakter adalah perilaku, yaitu bagaimana ayah-ibu berupaya mendorong anak-anak untuk terbiasa berperilaku baik melalui contoh langsung.</p>
<p>D. Peran Strategis Ayah bagi Pengembangan Karakter Anak<br />
Menjadi ayah pada generasi sekarang tidak mudah. Selain mencari nafkah, ayah juga diharapkan dapat mengusahakan keutuhan keluarga dan menciptakan kebersamaan dalam keluarga. Pada generasi sebelumnya, pengasuhan anak cenderung dilimpahkan pada ibu saja. Namun saat ini terjadi pergeseran konsep, dari pengasuhan motherhood menjadi parenthood. Konsep parenthood menitikberatkan pada peran kedua orangtua, ayah-ibu (Purbo, dalam www.sahabatnestle.co.id). Di sinilah terbuka peluang bagi keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Ayah yang menjalankan peran pengasuhan secara optimal ternyata sangat besar mempengaruhi perkembangan anak, termasuk dalam perkembangan karakternya.</p>
<p>Selain figur ibu, anak juga memerlukan figur ayah bagi pengembangan karakternya. Hal ini karena ada peran-peran ayah yang khas, yang sulit tergantikan oleh perempuan meskipun perempuan tersebut adalah single parent yang berperan sebagai ayah-ibu sekaligus. Peran ayah ini diperlukan baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan. Pola pengasuhan ibu yang cenderung hati-hati akan diseimbangkan oleh ayah. Umumnya ayah bersikap lebih santai, lugas, dan banyak memberi kebebasan pada anak untuk bereksplorasi. Ayah membantu anak bersifat tegar, kompetitif, menyukai tantangan, dan senang mencoba. Jika ibu memerankan sosok yang memberikan perlindungan dan keteraturan, ayah membantu anak bebas bereksplorasi dan menyukai tantangan. Kedekatan yang terjalin antara anak dengan ayahnya merupakan interaksi penting untuk mengembangkan sisi maskulin anak, sehingga anak akan berkembang secara sehat menjadi pribadi yang androgini.</p>
<p>Selain itu, ikatan ayah-anak juga mampu meningkatkan kemampuan adaptasi anak sehingga anak tidak mudah stres atau frustasi untuk berani mencoba hal-hal yang ada di sekelilingnya. Menurut penelitian, ayah yang hangat membuat anak lebih mudah menyesuaikan diri, lebih sehat secara seksual, dan perkembangan intelektualnya lebih baik. Keterlibatan ayah dalam keluarga juga akan meningkatkan IQ anak sampai 6-7. Di samping itu anak akan lebih memiliki rasa humor, lebih percaya diri, dan punya motivasi belajar (www.bkkbn.go.id).</p>
<p>Bagi anak perempuan, ayah merupakan tempat ia belajar tentang hal yang biasanya dominan ada pada laki-laki seperti kekuatan, ketegaran, keruntutan berpikir, pengendalian emosi, kepemimpinan, dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, dilihat dari sejarah kedekatan ayah-anak, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya kelak memiliki keinginan berprestasi tinggi dan berani bersaing. Persepsi ayah saat memandang anak perempuannya akan menumbuhkan konsep diri, merasa layak dihormati, dan memiliki kompetensi pada anak. Kelak anak perempuan ini akan cenderung terhindar dari hubungan pacaran yang tidak sehat, karena dapat menghargai diri sendiri seperti ayah menghargainya (www.bkkbn.go.id).</p>
<p>Sementara bagi anak laki-laki, ayah dapat menjadi contoh yang baik baginya untuk belajar bagaimana berkata, bersikap, berperilaku dan berpikir sebagai orang laki-laki. Melalui ayahnya, anak laki-laki dapat belajar misalnya tentang cara bergaul, cara memimpin orang lain, cara memperlakukan perempuan, cara menyelesaikan masalah, cara mempertahankan pendapat, dan lain-lain. Bila ayah dekat dengan anak laki-lakinya, peluang anak terjebak dalam masalah kenakalan remaja sangat kecil. Hal ini karena anak lelaki meniru model acuannya, yaitu ayahnya sendiri yang membantu anak berkembang. Anak akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang diberikan ayah pada dirinya.</p>
<p>Untuk dapat menjadi panutan bagi anak, seorang ayah perlu memiliki integritas, ketegasan dan konsistensi dalam menerapkan batasan atau aturan, sehingga anak tidak bingung dalam mengenali hal-hal yang baik dan buruk. Ayah biasanya berperan sebagai sosok yang memiliki otoritas dalam menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak dalam keluarga beserta ganjaran/hukumannya. Hal ini akan mengembangkan anak untuk memiliki kontrol diri dalam berperilaku.</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh ayah dalam pengasuhan anak untuk mengembangkan karakter mereka, yaitu sebagai berikut (Purbo, dalam www.sahabatnestle.co.id).<br />
Selalu menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan anak walaupun hanya sebentar. Keterlibatan ayah ini dapat dilakukan melalui permainan, pemberian pujian/dukungan, menanyakan kejadian-kejadian yang dialami anak hari itu, dan sebagainya.<br />
Menghindari tingkah laku menghina, meremehkan, memarahi dan memerintah anak, karena hal ini akan menimbulkan perilaku agresif dan tidak kooperatif pada diri anak.<br />
Mengusahakan ikut terlibat secara aktif dalam mentransfer nilai-nilai yang baik saat bersama anak. Seorang ayah tidak selayaknya menyerahkan tanggung jawab trasfer nilai pada ibu saja lalu bersikap pasif atau acuh tak acuh pada anak. Anak perlu mendapatkan gambaran ayah sebagai figur yang positif, sehingga dapat mengurangi kecenderungan anak untuk berperilaku buruk di kemudian hari.<br />
Mengupayakan diri sebagai figur idola bagi anak-anaknya. Misalnya dengan memberikan kasih sayang, perhatian, sikap tulus, teladan perilaku, dukungan, kehangatan sekaligus kewibawaan. Diharapkan melalui berbagai hal tersebut anak akan mencintai dan menghormati ayahnya, dan pada gilirannya anak dapat mengambil banyak pelajaran dari sosok ayah tersebut.</p>
<p>Namun bagi sebagian ayah, merubah pola pikir tentang keterlibatan dirinya dalam pengasuhan anak ternyata tidak mudah. Padahal, seharusnya sejak anak lahir ayah sudah dapat terlibat dalam pengasuhan anak. Oleh karena itu, keinginan seorang ayah untuk ikut terlibat dalam pengasuhan anak perlu ditanggapi dan didorong oleh pasangannya yaitu ibu. Agar ayah dapat menikmati benar perannya dalam turut serta mengasuh anak, maka perlu dibangun keeratan (bonding) antara ayah dengan anak, misalnya melalui cara berikut (www.bkkbn.go.id).<br />
Menyadari tanggung jawab dan hak sebagai orang tua. Ayah menyumbang peran unik yang mewarnai kepribadian anak. Ibu yang bijak tidak akan terlalu khawatir bahwa anak perempuannya akan tumbuh menjadi anak tomboi bila terlalu sering berinteraksi dengan ayah. Misalnya dengan memberikan kesempatan anak perempuan bermain bola bersama ayah, karena bukan permainannya yang dinilai tetapi proses saat anak bermain yaitu sikap sportif, kompetitif dan menyehatkan.<br />
Menyadari keterlibatannya dengan baik, sehingga ayah perlu mengatur waktu antara pekerjaan dengan mengasuh anak, sama halnya dengan ibu yang bekerja.<br />
Menjaga konsistensi. Ayah hanya memiliki waktu di saat-saat tertentu saja sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sikap ayah yang tidak konsisten, misalnya kadang bersikap hangat namun lain hari sangat galak akan menimbulkan kebimbangan (ambivalen) pada anak, sehingga anak cenderung memilih menjauh dari ayahnya.<br />
Meluangkan waktu untuk aktivitas di rumah. Ayah perlu menyadari bahwa kehadiran anak mengharuskannya mengurangi sebagian kebebasan dan hobinya. Anak memerlukan perhatian, waktu, tenaga dan pikiran dari ayahnya. Demi anak, ayah perlu mengurangi pos-pos pengeluaran keuangan dan kegiatan di luar yang tidak terlalu penting.<br />
Memelihara jalinan komunikasi. Komunikasi yang sudah terjalin sejak anak berada dalam kandungan diusahakan tidak terputus. Jika terputus, ayah akan mengalami kesulitan untuk dekat dengan anak. Anak perlu diberikan waktu dan peluang seluas-luasnya untuk didengarkan atau diajak bercerita.<br />
Mengajak anak berbicara, tertawa atau bermain, meskipun tidak terlalu lama. Ayah perlu mengembangkan konsep pertemanan di mana ayah tidak selalu memerintah ataupun melarang, namun juga dapat ditegur anak atau tidak gengsi diajak bermain.<br />
Melibatkan anak dalam pekerjaan. Kebanyakan anak memandang kantor, pabrik, atau toko tempat ayah bekerja sebagai sebuah tempat asing. Ayah sesekali perlu mengajak anak ke tempat kerja sehingga anak mengenal kegiatan ayahnya sehari-hari.<br />
Membangun citra diri anak, khususnya citra diri mengenai kelaki-lakian. Ayah berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak di masa depan. Melalui orang tua, anak diperkenalkan bahwa tanggung jawab keluarga perlu dipikul bersama. Jadi wawasan gender dalam peran laki-laki dan perempuan itu tidak dipersempit, tetapi sebaliknya diperluas. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan kegiatan mengasuh anak, bernyanyi, atau bermain dengan anak-anak.</p>
<p>Namun, ada kalanya seorang anak dibesarkan oleh ibu yang single parent. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya ibu mencarikan peran pengganti seorang ayah, agar anak tidak kehilangan sosok figur ayah. Peran pengganti tersebut dapat dilakukan oleh paman, kakek, guru atau orang lain yang dianggap pantas sebagai sosok teladan figur ayah dan secara emosi mempunyai kedekatan hubungan dengan anak.</p>
<p>PENUTUP<br />
Karakter anak dapat dikembangkan sejak dini. Sebagai orang dewasa yang mempunyai ikatan biologis dan interaksi yang intensif dengan anak, ayah-ibu berperan sangat penting dalam pengembangan karakter anak. Peran ayah-ibu dalam pengembangan karakter anak adalah sebagai penggagas suasana yang hangat dan tenteram, panutan, dan pendidik. Pengembangan karakter anak oleh ayah-ibu dapat dilakukan melalui pengasuhan yang patut, antara lain dengan cara: memperlakukan anak sesuai keunikannya, memenuhi kebutuhan dasar anak, menyelaraskan dengan pola pendidikan di sekolah, memberikan dukungan, memberikan fasilitas sesuai usia, memprioritaskan kewajiban sebagai orang tua, mengevaluasi cara berinteraksi dengan anak, menjadi contoh, mengamati setiap perilaku anak, menggunakan bahasa karakter, memberikan hukuman karena sayang, mendengarkan anak, memantau anak dalam urusan sekolah, meluangkan waktu untuk makan bersama, dan menyelaraskan kata-kata dengan perilaku. Pada pengasuhan yang patut ayah mempunyai peranan yang strategis karena akan menjadi figur tentang sosok maskulin yang tidak dapat tergantikan oleh peran ibu. Konsep parenting modern memberikan kesempatan pada ayah untuk terlibat lebih intens pada pengasuhan anak, sehingga ayah pun memiliki kontribusi yang besar terhadap pengembangan karakter anak.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
Anonim. Karakter Anak, Orangtua Acuannya. Tersedia pada http://www.sahabatnestle.co.id/homev2/main/duniadancow/tksk_sd.asp? id=1015. Diakses 20 Maret 2008.</p>
<p>Anonim. Peran Ayah pada Pengasuhan Anak. Tersedia pada http://www.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail.php?artid=8. Diakses 20 Maret 2008.</p>
<p>Gunadi, P. Wawancara dengan Paul Gunadi. Tersedia pada http://www.skketapang.org/ArtikelDetail.asp?id=9. Diakses 21 Maret 2008.</p>
<p>Harry (2002). Tidak Lebih 20%-30 % Orang Tua yang Tidak Mampu Didik Karakter Anak. Tersedia pada http://www.kaltimprov.go.id/content.php?kaltim=news&amp;code=1&amp;view=37.<br />
Diakses 20 Maret 2008.</p>
<p>Kilpatrick,W. (1992). Why Johny Can’t Tell Right From Wrong. New York: Simon &amp; Schuster, Inc.</p>
<p>Kurtus, R. (1997) Concern for The Character of Children. Tersedia pada http://www.school-for-champions.com/character/concern_children.htm., 14 Maret 2007. Diakses 24 Maret 2008.</p>
<p>Lickona, T. (1992). Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.</p>
<p>Martianto, D.H. Pendidikan Karakter: Paradigma Baru dalam Pembentukan Manusia Berkualitas. Tersedia pada http://tumoutou.net/702_05123/dwi_hastuti.htm. Diakses 21 Maret 2008.</p>
<p>Megawangi, R. (1999). Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa. Depok: Indonesia Hertage Foundation (IHF).</p>
<p>Nurokhim, B. Membangun Karakter dan Watak Bangsa Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan. Tersedia pada http://www.tnial.mil.id/tabid/125/articleType/ArticleView/articleId/200/ Default.aspx. Diakses 22 Maret 2008</p>
<p>Purbo, A. Peran Ayah pada Pembentukan Karakter Anak. Tersedia pada http://www.sahabatnestle.co.id/homev2/main/dunia-dancow/tksk_sd.asp?id=1050. Diakses 20 April 2008.</p>
<p>Risman, E. (2008). Orangtua, Instropeksilah. Dialog Jumat Republika, Jumat 18 April 2008. Jakarta: HU Republika, pp. 4.</p>
<p>Ryan, K. (2002). Ten Tips for Raising Children of Character, in Character Education Informational Handbook and Guide. Tersedia pada http://charactered.net/parent/vincentbetter.asp. Diakses 23 Maret 2008.</p>
<p>Taryana, O. &amp; Rinaldi, D. Kurikulum Pembentukan Karakter Siswa di SD Bina Talenta. Tersedia pada http://sd-binatalenta.com/Karakter_untuk_situs.pdf. Diakses 21 Maret 2008.</p>
<p>Wynne, E.A. (1991). Character and Academics in the Elementary School, in J.S. Benigna (ed). Moral Character and Civic Education in the Elementary School. New York: Teachers College Press.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyahfiles.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyahfiles.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyahfiles.wordpress.com&amp;blog=3574745&amp;post=12&amp;subd=diyahfiles&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyahfiles.wordpress.com/2008/10/05/pengasuhan-ayah-ibu-yang-patut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1fafd3886d2730a617dcdfe323e29eb8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyahfiles</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
