TELAGA YANG LEBIH MENGHIDUPI

Sahabat, bila setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan akhirnya dihadapan Anda kini terbentang telaga luas. Sekiranya apa yang akan Anda lakukan?

Rehat sejenak, membasuh tangan, kaki juga wajah dengan air telaga tak ada salahnya. Kesegarannya sontak meluruhkan kepenatan. Bahkan  mengambil air telaga sebagai bekal menempuh sisa perjalanan barangkali menjadi sebuah pilihan bijak.

Namun jika ternyata yang ada disekiling Anda hanya titik – titik air di dedaunan sisa hujan barusan, sementara Anda sudah cukup kehausan dan letih. Akankah titik – titik air itu menuntaskannya? Sejenak, mungkin. Tapi selanjutnya …

Sahabat, kisah diatas dapat dianalogkan dengan penyaluran zakat kita. Sepintas lalu memberikannya langsung pada mustahik terasa lebih afdol, plong. Ketimbang memanfaatkan pihak ketiga sebagai perantara dalam hal ini Lembaga Amil Zakat untuk mengelola zakat kita. Benarkah ?

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa, pada suatau hari ketika Rasulullah bersama para sahabat, tiba – tiba datang seorang pengemis yang meminta sedekah kepadanya, beliau tidak langsung memberikan tetapi Rasulullah bertanya terlebih dulu. “Apakah engkau masih punya barang di rumah?” pengemis itu menjawab “ Ya Rasulullah saya tidak mempunyai  barang lagi di rumah selain sebuah guci yang sangat tua” . Selanjutnya Rasulullah  berkata, “ Sekarang bawa barang itu kemari”. Akhirnya pengemis itu  pun mengambil barangnya dan di bawa kepada Rasulullah.

Singkat cerita barang itu kemudian dilelang oleh Rasulullah kepada para sahabat.  Setelah laku terjual, Rasulullah  memberikan uang hasl penjualan tersebut kepada pengemis dengan ketentuan “ separuh dari uang ini untuk membeli kampak di pasar  dan pergunakanlah  untuk mencari kayu di hutan, lalu jualah ke pasar. Sehingga engkau punya pencaharian untuk menghidupi keluargamu. Dan setengahnya lagi belikan makanan  untuk jatah hari ini bagi keluargamu”

Sesuai dengan anjuran Rasulullah laki – laki itu membeli sebuah kampak dan makanan untuk keluarganya. Beberapa waktu kemudian laki – laki yang sebelumnya mengemis itu  mendatangi Rasulullah  dan berkata “ Ya, Rasulullah sesuai dengan yang telah engkau anjurkan,  saya sekarang sudah punya pekerjaan untuk mengidupi keluargaku, dan aku mampu menyisihkan sebagiannya untuk kepentingan keluargaku”

Ya, proses penyaluran zakat bukanlah melestarikan kemiskinan. Sehingga bila kali ini seorang mustahik (penerima zakat) menerima zakat, maka lain kali Ia diharapkan telah mampu mandiri, tidak menerima zakat lagi. Dana zakat mampu  membuat mustahik menjadi muzakki. Yang menjadi persoalannya sekarang  adalah mampukah  proses – proses ini dijalankan oleh masing – masing muzakki tanpa pihak ketiga (Lembaga Pengelola Zakat) yang membantu proses tersebut ? Tidak bukan ? Disinilah peran penting Lembaga Amil Zakat.

Sahabat, zakat yang Anda salurkan secara langsung pada mustahik ibarat titik – titik air didedaunan. Menyegarkan memang, namun sesaat, setelah tu? Dan benarkah bila proses itu hanya berhenti sampai disini (mustahik menerima zakat dari mampu mandiri.?

Para mustahik (penerima) zakat tidak cukup hanya diberi dana agar mamapu mandiri. Mereka juga perlu dibangun mentalitasnya, di motivasi dalam berusaha serta membangun visi masa depannya melalui upaya pendampingan. Sehingga dana zakat yang mereka terima bisa digunakan secara tepat untuk proses kemandirian mereka, mengentaskan diri dari kemiskinan. Tidak habis begitu saja untuk membeli aneka kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Dan fungsi fungsi pendampingan ini bisa dilakukan manakala zakat  sahabat sekalian  disalurkan melalui lembaga zakat.

Sementara bagi sahabat sekalian  yang telah mengamanahkan zakat agar dikelola oleh Lembaga Amil Zakat, maka secara langsung maupun tidak langsung Anda telah mengisi telaga luas yang menghidupi banyak hal (aspek)”. Ketika dana – dana ini terkumpul dalam sebuah lembaga zakat, maka begitu banyak hal  yang dapat dilakukan untuk memberikan perubahan pada kaum dhuafa. Antara lain : sekolah gratis, rumah sakit gratis, dan pembangunan lembaga – lembaga perekenomian yang berpihak kepada dhuafa. Dengan kata lain manfaat yan bisa diberikan kepada mustahik tidak sebatas dana melainkan sesuatu yang jauh lebih penting yaitu pembinaan mentalitas untuk melakukan perubahan.

Disisi lain,  dengan menunaikan zakat lewat Lembaga Amil Zakat, disamping kita menunaikan kewajiban kita secara tidak langsung kita pun turut membukakan kesempatan bagi saudara – saudara kita yang bekerja di lembaga zakat untuk mendapatkan “kebaikan”  dengan bekerja  menyalurkan zaat kepada para mustahik.

Sedangkan bagi muzakki disamping lebih praktis dan mudah dalam menunaikan zakatnya dengan berzakat melalui lembaga,   daya guna dan nilai kemafaatan zakat akan lebih besar. Sebab  zakat teralokasikan secara lebih tepat menurut skala prioritas. Sehingga akan makin menambah pahala yang akan diterima. Insya Allah. Belum lagi tambahan pengetahuan tentang zakat serta bantuan untuk menghitung besar zakat yang dikeluarkan sehingga terhindar dari kesalahan.

Sahabat masihkah Anda menyukai “kesendirian” , ketika dengan kebersamaan justru membukakan begitu banyak pintu kebaikan bagi orang lain ?

(T. Widiyah. R, dari berbagai sumber )

Iklan

INDAHNYA BERZAKAT

“Bulan ini apa lagi yang musti di beli ya? Or Week end kali ini mau jalan ke mana? Hm … “ tiap kali kelebihan rizki menghampiri. Mengapa bukan “ Dari uang ini berapakah yang musti aku sisihkan untuk infak/ sodaqoh dan zakat ?

Ya. Bebelanja untuk kebutuhan  pribadi memang terasa lebih nikmat ketimbang berbagi dengan orang lain. Benar begitu sahabat ?

Tak perlu sungkan untuk jujur pada diri sendiri. Sebab memang begitulah fitrah kita sebagai manusia. Selalu mengingikan lebh, lebih dan lebih. Yang jadi masalahnya sekarang adalah apakah segala kelebihan tersebut kelak menyertai kita saat maut menjemput?

Sahabat, sejatinya dalam harta yang Allah Swt titipkan kepada kita terkandung pula hak – hak orang lain. Sengaja Ia titipkan ini pada kita agar kita memiliki kesempatan untuk “ berbagi” kepada mereka yang membutuhkan. Atas segala kepedulian itu baik berupa infak, sodaqoh dan zakat, Allah Swt telah menyiapkan serangkain “ bonus “ yang dapat kita nikmati di dunia maupun sebagai bekal disaat kelak megahadap-Nya.

Zakat memliki posisi yang penting dalam Islam. Sebab zakat termasuk  dalam rukun Islam  dan hukumnya wajib (fardhu’ain) bagi yang mampu. Hingga bila hal ini dilalaikan otomatis keislamannya diragukan.

Sebegitu pentingkah?

Jika mereka bertobat, mendirkan shalat dan menunaikan zakat maka (mereka itu) adalah saudara- saudaramu seagama” (QS. At Tawbah : 11). Pungutlah zakat dar sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu  kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At Tawbah : 103).“Dan apa yang kamu berikan  berupa zakat  yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang – orang yang melipatgandakan (pahalaya) .(QS. Ar Rum : 39 )“Dan orang – orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat  dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya; seseungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At Tawbah : 71)

Sahabat, memang secara matematis jumlah nominal harta kita akan berkurang karena dikeluarkan untuk zakat tetapi nilainya justru bertambah, karena keuntungan yang diperoleh akan jauh lebih besar. Mengapa demikian? Karena harta itu akan menjadi bersih, kemudian berkah, lalu tumbuh dan berkembang, sebagaimana arti dari zakat itu, yang berasal dari kata”Zaka”, yaitu :Tumbuh dan Berkembang. Dan bukankah setiap orang menginginkan harta yang berkah, sehingga hidupnya nyaman, mudah, tentram serta terlindung dari kegelisahan dan kekhawatiran tak terkecuali sahabat sekalian?

Melalui zakat, Allah SWT menyucikan harta, dan menghendaki kebaikan untuk kehidupan manusia melalui syari’at-Nya, di antaranya agar tolong menolong, gotong royong, dan selalu menjalin persaudaraan. Adanya perbedaan harta, kekayaan dan status sosial dalam kehidupan adalah sunatullah yang tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Bahkan dengan adanya perbedaan status sosial itu kita memilik kesempatan untuk  saling berbagi dan menjalin silaturahim antara satu dengan lainnya. Alhasil zakat menjadi  salah satu instrumen paling efektif untuk menyatukan umat manusia dalam naungan kecintaan dan kedamaian hidupnya di dunia untuk menggapai kebaikan di akhirat

Dengan demikian, ketika sahabat sekalian telah menunaikan zakat berarti secra tidak langsung sahabat telah turut membangun tatanan yang lebih baik dengan memberikan hak-hak orang lain yang kebetulan dititipkan Allah Swt pada Anda, menegakkan Islam, dan menolong mereka yang lemah. Sebaliknya, bila tanpa sengaja sahabat telah meninggalkan kewajiban berzakat maka secara tidak langsung sahabat telah merusak tatanan sosial ekonomi, mengambil hak-hak orang lain, merobohkan Islam, dan tega membiarkan orang-orang lemah (dhu’afa) hidup dalam penderitaan dan kesusahan. Astaghfirullah. Tegakah engkau sahabat?

Bila ternyata  demikian( pilihan terakhir yang dipilih), maaf Allah Swt telah menyiapkan azab yang pedih di akhirat bagi mereka yang melalaikan zakat.

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS At-Taubah [9]: 34-35)

Tak ada salahnya  di akhir penuturan ini kita bercermin pada kisah seorang tabi’in benama Uwais Al−Qorni. Walaupun hidupnya tergolong miskin, dengan pakaian yang penuh tambalan dan bekerja hanya sebagai penggembala, tetapi Uwais mengatakan : Aku ini adalah penggembala dengan gaji 4 dirham, tapi semuanya tidak masuk ke perutku. Artinya adalah setiap kali Uwais menerima gaji, saat itu pula ia mengeluarkan sedekahnya untuk fakir miskin. Dalam sejarah kehidupan Uwais juga tercatat, dia biasa makan makanan yang diambil dari tempat sampah, setelah dibersihkan, lalu dibelahnya menjadi dua (2) bagian. Yang separuh dimakan dan sisanya disedekahkan. Subhanallah

Mari berzakat sahabat, jangan nodai hartamu

( T. Widiyah. R, dari berbagai sumber )

Wanita Bagi Pahlawan

Siapakah yg pertama kali ditemui Rasulullah SAW setelah menerima wahyu dan merasakan ketakutan yg luar biasa? Khadijah!

Wanita bagi banyak pahlawan adalah booster spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan ghairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Lelaki menumpahkan energinya di luar rumah, dan mengumpulkannya kembali dari dalam rumahnya.

Kekuatan besar yg dimiliki para wanita yg mendampingi para pahlawan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Kekuatan itu sering dilukiskan seperti dermaga tempat kita menambat kapal, atau pohon rendang tempat sang musafir berteduh. Tapi kekuatan emosi itu sesungguhnya merupakan padang jiwa yg luas dan nyaman, tempat kita menumpahkan sisi kesederhanaan dan kekanakan kita, tempat kita bermain dengan lugu dan riang, saat kita melepaskan kelemahan-kelemahan kita dengan aman, saat kita merasa bukan siapa-siapa, saat kita menjadi budak besar. Kerana di tempat dan saat seperti itulah para pahlawan menyedut energi jiwa mereka.

Itu sebabnya Umar Al-Khattab mengatakan, “Jadilah engkau anak kecil di depan isterimu. Tetapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu”. Kekanakan dan keperkasaan, kesederhanaan dan kematangan, saat lemah dan saat berani, saat bermain dan saat berkarya, adalah ambivalensi-ambivalensi kejiwaan yg justeru berguna menciptakan keseimbangan emosional dalam diri para pahlawan.

“Saya selamanya ingin menjadi budak besar yg sederhana,” kata Sayyid Qutb. Para pahlawan selalu mengenang saat-saat indah ketika ia berada dalam pangkuan ibunya, dan selamanya ingin begitu ketika terbaring di pangkuan isterinya.

Itulah keajaiban dan kesederhanaan. Kesederhanaan yg sebenarnya adalah keagungan; kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Itulah keajaiban wanita.

Sumber : www.portalinfaq.org

Akankah Kita Menjadi Pahlawan ?

Sahabat sempatkah terpikir oleh Anda setiap hal yang Anda lakukan terhadap orang lain adalah sesuatu hal yang cukup berarti bagi mereka ? Sehingga Anda patut bangga karenanya sebab merasa telah berhasil menjadi pahlawan bagi mereka ?

Atau …

Sahabat sekalian merasa harus menjadi  figur “ besar “ terlebih dahulu untuk dapat melakukan  “tugas – tugas”  kepahlawanan ?

Hm … benarkah demikian ?

Menurut  KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia )  kata pahlawan memiliki arti : orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Namun .. kebenaran seperti apakah yang pantas diperjuangkan ?

Sebuah kerja akan  akan mendatangkan manfaat  serta kebahagiaan bagi orang lain  bila dilakukan berdasar pada “hati nurani “ . Klise memang, tapi ini fakta. Bagaimana tidak ? Kita mampu bertahan dalam garis kebenaran, tetap concern perihal etika serta moral dan peduli terhadap manusia dan kemanusiaan. Mengapa demikian ?

Karena nuranilah yang akan meredam “kegilaan” untuk disebut sebagai pahlawan. Dimana kita  mudah merasa menjadi seorang pahlawan setelah terkesan gagah ( meski sebenarnya picik) atau sibuk melakukan kerja – kerja “ besar “, namun sayang  tidak “pada tempatnya”. Sehingga bukan kemaslahatan yang didapat, tetapi sebaliknya.

Seperti apakah sebenarnya sosok pahlawan itu ?

“Para pahlawan…Mereka itu hanyalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya”

(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia, hal. xiii)

Ya, siapapun bisa menjadi pahlawan. Karena pahlawan sebenarnya hanyalah manusia biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa. Pahlawan mungkin gagal, tapi ia tak menyerah. Pahlawan mungkin terjatuh, tapi ia bangkit lagi. Ia tak mempedulikan semua itu. Baginya yang penting adalah ia berjuang dengan gagah berani –sama seperti yang definisi yang diberikan oleh KBBI.

Lalu dimanakah mereka, para pahlawan itu ?

Ada di sini. Coba sahabat, sekarang  lihat sebelah kanan dan kiri Anda, Kemudian  lihat ke dalam diri Anda. Bisa jadi pahlawan itu adalah Anda sendiri. Jangan menanti mereka. Jangan menunggu mereka. Seperti yang dikatakan Anis Matta, para pahlawan tidak akan datang. Para pahlawan itu bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan tumbuh di negeri ini. Mereka adalah saya, Anda, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu keluar dari comfort zone mereka, merebut takdir kepahlawanan mereka, dan mulai menghancurkan masalah demi masalah yang pelik dengan solusi-solusi cerdas mereka.

Dan … sosok kepahlawanan seperti apakah yang layak kita jadikan panutan ?

Mereka adalah figur – figur pahlawan spiritual. Hitler mungkin mampu membuat seluruh Eropa kecut dengan kekuatan militernya, tapi seorang Mahatmah Gandhilah yang mampu menyihir dunia dengan kekuatan spiritualnya, sampai-sampai ketika Gandhi wafat, orang-orang berkata bahwa “kebaikan” telah wafat. Gandhi tidak mempunyai harta. Berjalan pun dia kadang tidak memakai sandal. Namun, dia tidak memerlukan itu. Kekuatannya tidak terletak dalam kekuatan duniawi. Kekuatannya adalah kekuatan spiritual.

Para pahlawan seperti itulah yang seyogyianya kita ciptakan di dalam diri kita. Sama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang kurus kerempeng, tetapi sangat dicintai Rasulullah karena kepribadiannya. Di kala Islam mendapat ancaman pemberontakan setelah Rasul wafat, lelaki kurus kerempeng ini berubah menjadi singa yang ganas dan meradang di depan Umar yang terkenal garang, “Demi Allah, sekiranya mereka tak hendak menyerahkan kepadaku tali-temali unta yang biasa mereka berikan kepada Rasulullah, pastilah akan saya hadapi!

Bukan kekuasaan yang para pahlawan spiritual ini cari. Bukan pula kemewahan atau kekuasaan. Itu hanyalah semu bagi mereka. Tujuan mereka lebih dari itu. Jauh lebih agung dari itu. Tujuannya yang sebenarnya ada di balik fatamorgana itu: akhirat. Karena seperti kata Anis Matta, hanya ketika seorang pahlawan menetapkan misi hidupnya sebagai pemburu akhirat, ia akan sanggup melampaui dunia. Berjibakunya dirinya ketika menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini, pengorbanan maksimalnya untuk negeri ini, cucuran keringatnya ketika mencari solusi-solusi untuk negara ini, itu semua dilakukannya hanya untuk Rabb-Nya. Ia tak terlalu peduli apakah namanya akan dimasukkan ke dalam lembaran sejarah manusia atau tidak. Ia tak peduli akan dimakamkan di taman makam pahlawan atau tidak. Ia hanya peduli apakah namanya tercantum sebagai penduduk surga atau tidak.

Sanggupkan kita mengemban tugas ini?

Jawabannya berpulang pada masing – masing dari kita, Sahabat.

Allah Swt Penentu Segala Sesuatu

” Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali – kali tak ada pilihan bagi mereka “

( QS. Al Qasas : 68 )

” … dan bagi- Nyalah  segala penentu dan hanya kepada -Nyalah kamu dikembalikan ”
(QS. Al Qasas : 70 )
Ya,  manusia hanya bisa bekehendaksementara Allahlah yang menentukan. Sebagai makhlukNnya, kemampuan kita terbatas pada upaya mengontrl proses, bukan hasil. Bagaimana setiap tr5ahapan kehidup[an ini berproses sesuai dengan batasan – batasan dan berjalan dalm koridorNya. Hanya itu.

Hm … , bukan manusia namanya jika hatinya tidak mudah goyah. Acap kali meski jiwa ini tyelah tertata sedemikian rupa. berusaha menjaga kontinuitas kedekatan kita dengan sang pencipta. Tetap saja kadang ” nge-down” juga bila  kelewat sering dihadapkan  pada  sesuatu yang berseberangan dengan keinginan.

Siapa yang tak akan jengah bila :
  • Dengan sekuat tenaga meredam gejolak intern dikantor denga rasionalitas juga kesabaran dalam mengurai polemik yang ada hingga tuntas . . But dari  lini seberang ternyata ada pihak yan g memanfaatkan dengan ” maksud ” lain.
  • Di uji denga  ketidak nyamana yang tidak kunjung usai.
  • Targert – target yang telah tersusun matang lepas. Jauh menyimpang dari konsep semula.
Kankah kita berlama – lama meratapi kondisi tersebut ?
Nei … nei … nei.
Lakukan apa yang kita bisa, mulailah dari apa yang paling mungkin kita lakukan, sekaligus cukup efektif menetralisir keadaan.Nggak ada gunanya sibuk curhat sana sini, nangis sampai mata ini sembab or tenggelam dalam histeria berkepanjangan.
Tidak ada manusia yang benar – benar tangguh hingga tanpa pernah mengeluh   . Atau …, luar biasa tegar  tanpa sretitikpun rasa gentar.
Lalu apa yang mesti dilakukan ?
  • Kedepankan rasinalitas  bukan sensitivitas, sehingga tidak mudah menjadi panik.
  • Fokus pada apa yang sedang dikerjakan . bukan pada  hal yang nanti mungkin akan terjadi
Barangkali  kita bisa merasakan sesuatu itu akan terjadi. namun bukan berafti kita lalu  benar – benar meyakininya akan terjadi berdasar pada analisa – analisa kita. Itu sam saja denga takabur, sok tahu banget sih dengan takdir kita.  Bisa saja yang dikhawatirkan tadi  tidak sepenuhnya terjadi, mengapa ?
Coz, takdir sepenuhnya milik Allah Swt sementara kita hanya menjalaninya. Hanya dengan ketulusan doa, takdir itu bisa berubah. So, sebelum takdir itu benar – benar “jatuh”  maka kewajiban kita adalah melaksanakan tugas – tugas kehidupan  kita dengan sebaik mungkin. Tak perlu ambil pusing  dengan apa yang kelak akan terjadi pada diri kita, itu sepenuhnya wewenangNya. Masa sih Allah Swt, akan menelantarkan hambanya yang bersungguh – sungguh? nggak banget kan ?
  • Menjaga kedekatan dengan Allah Swt.
Haruskah ?
Tentu, Bahan bakar utama dan terutama agar mampu bertahan dalam “masa – masa  sulit” tersebut adalah sabar dan ikhlas.Sabar menjadikan kita tidak cepat nebyerah mengurai kerumitan  yang ada. Ikhlas, membantu meringankan langkah ini mengemban segala yang diamanahkan.  And ….,  kesabaran serta keikhlasa hanya akan bersemi bila kedekatan dengan Allah terjaga.
Why?
Simple aja sih, kedekatan tersebut membuat kita yakin bahwa segala  apa yang terjadi pada kita adalah terbaik buat kita. Karena Dialah yang paling tahju ap[a yang kita butuhkan. Coz, ia yang menciptakan kita.
So, keep on spirit. Ok ?

Ketika Pemimpin Itu Adalah Wanita

Meski dalam Islam wanita tidak dianjurkan menjadi pemimpin. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga figure pemimpin besar yang yang lahir dari kaum hawa. Dan sebagian dari mereka notabene juga seorang muslimah.

Sebut saja Cut Nyak Dien pejuang kemerdekaan dari Aceh. Pejuang wanita ini dengan gigih berjuang untuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan. Meski beliau adalah seorang wanita akan tetapi sepak terjang beliau tidak dapat dipandang sebelah mata. Terbukti untuk dapat melumpuhkan beliau Belanda beserta antek – anteknya harus menggunakan tipu daya dengan memanfaatkan salah satu anak buah beliau. Dan pada saat itu pun Cut Nyak Dien sudah dalam keadaan renta dan buta.

Di Pakistan kita mengenal PM Benazir Buto. Kegigihan dan keuletan beliau dalam memperjuangkan prinsip – prinsiup yang dianutnya demi kesejahteraan rakyatnya membuatnya tak bergeming meski harus merasakan penjara, penolakan, cercaan , kegagalan dan tekanan dari pihak oposisi ( lawan politik ). Pun meski pada akhirnya sepak terjang beliau harus berakhir, disebabkan sebuah insiden penembakan gelap yang merenggut nyawanya.

Bila kita kembali lagi ke tanah air maka perempuan negeri ini tak akan pernah bisa melupakan jasa RA Karttini . Penggagas pertama kesejajaran hak wanita dengan pria terutama dalam hal memperoleh pendidikan yang layak juga hak untuk dapat berkontribusi bagi khalayak banyak dengan tanpa meninggalkan kodratnya. Meski beliau lahir dari kalangan bangsawan yang terpelajar , bukan berate perjuangan beliau tanpa menemui halangan berarti. Meski begitu RA Kartini tak sedikit pun surut bertekad memajukan kaumnya. Hingga akhirnya beliau wafat saat melahirkan putra pertamanya.

Subkhanallah, dibalik kelembutan dan keteduhan mereka tersimpan potensi yang tidak kecil. Apakah itu ?

  1. Wanita adalah pemimpin yang transformasional.

Yaitu pemimpin yang berorientasi pada pendukung, prinsip dan perubahan.

  1. Berorintasi pada pendukung.

  • Memberdayakan para pendukung dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan masukan.

  • Lebih banyak bertindak sebagai mentor ( member petunjuk dan bimbingan kepada para pendukung untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan) ketimbang bersikap sebagai bos.

  • Memimpin dengan memberikan teladan kepemimpinan pada para pendukung melalui sikap dan tindakan mereka.

Contoh :

  • Cut Nyak Dien , berjuang umtuk membebaskan rakyatnya dari penjajahan.

  • Cory Aquino, Presiden Filipina yang berjuang untuk mengembalikan kekuasan pada rakyat dan membentuk pemerintahan yang bersih dari KKN.

  1. Berorientasi pada perubahan.

Tekanan social, budaya dan ekonomi mendorong wanita untuk menunjukkan prestasi dua kali lebih besar dari pada pria untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat sekitar. Para wanita seringkali harus mempersembahkan solusi yang luas bias, yaitu membawa “perubahan” signifikan bagi lingkungan mereka agar dapat diakui sebagai pemimpin.

Contoh :

Mary Eugenia Charles Perdana Menteri Republik Dominika berhasil memperbaiki ekonomi negaranya yang terpuruk slama masa prakemerdekaan. Sehingga dengan ini beliau bisa mempertahankan jabatannya selama tiga periode. Mary Eugenia Charles menduduki jabatannya tidak lama setelah Republik Dominika mendapat kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1978.

  1. Berorientasi pada prinsip.

Umumnya wanita pemimpin bertindak dan mengambil keputusan lebih dikarenakan dorongan prinsip yang diperjuangkan . Bukan oleh kekuasaan yang diraih. Tidak heran jika mereka mempunyai daya tahan yang lebih lama juga toleransi yang lebih tinggi atas krisis dan masalah yang mungkon harus mereka hadapi dalam menjalankan tugas mereka.

Contoh :

  • Perdana Menteri Benazir Buto dari Pakista.

  • Ibu Teresa pejuang hak – hak kaum papa.

  1. Wanita adalah pemimpin yang transaksional.

Yaitu pemimpin yang lebih mengedepankan pada kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim dan cenderung lebih bersikap terbuka.

  1. Komunikasi

Diana Halpern, seoorang professor di bidang psikologi mengungkapkan bahwa wanita memiliki kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi dikarenakan wanita memiliki kemampuan berbahas lebih baik dari pada pria. Kata – kata mereka jadikan senjata ampuh untuk menyampaikan pendapat, member motivasi dan dorongan bagi anak buah. Mereka sadar kata – kata yang tepat memiliki kekuatan dahsyat untuk menggerakkan orang lain.

Contoh :

Isabela Peron dari Argentina dan Indira Gandi dari India dikenal efektif dalam menggunakan kemampuan bekomunikasi dan kekuatan kata – kata dalm memimpin.

  1. Kerjasama Tim.

Dalam berperan sebagai pemimpin, para wanita enggan untuk bertindak sendiriian . Mereka banyak menggalang kerjasam dengan berbagai pihak untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Mereka sadar bahwa tujuan akan lebih mudah dicapai jika dilakukan dengan dukungan dari banyak pihak dan berbagai masalah yang dihadapi akan terasa lebih tingan jika di tanggunmg bersama.

Contoh :

Presiden Kumaratungga dari Sri Lanka senantiasa berusaha menggalang kerjasama dengan berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun dengan Negara – Negara tetangga. Dalam rangka membantu mengatasi masalah, menciptakan stabilitas di bidang ekonomi, politik dan sosial serta menciptakn perdamaian di tingkat regional dan internasional.

  1. Terbuka.

Umumnya wanita pemimpin dalm melaksanakan tugas – tugas kepemimpinananya cenderung untuk bersikap terbuka dalam memberikan informasi dan tanggung jawab apada para pendukung mereka. Dengan keterbukaan ini mereka menanamkan “ kepercayaan “ pada para pendukung. Sehingga pada akhirnya umunya para pendukung menjadi loebih loyal pada wanita pemimpin mereka.

Contoh :

Aung San Suu Kyi, pemimpin para pejuang demokrasi dari Myanmar yang memiliki banyak pengikut dan pendukung setia karena keterbukaannya pada rakyat. Sikap ini memupuk kepercayaan rakyat akan ketulusan Aung San Suu Kyi dalam memperjuangkan nasib mereka.

Wallahu’alam Bishowab.

( Dy, dari berbagai sumber )

To Be A Good Leader

Sebaik baiknya  pemimpin kamu adalah mereka  yang kamu cintai dan mereka pun mencintai kamu,kamu menghormati mereka

dan mereka menghormati kamu.  Sejelak jelek pemimpin kamu adalahmereka yang kamu benci

dan mereka pun benci kepadamu, kamu melaknat mereka dan mereka juga melaknanat kamu. “
( Al Hadist ).

Insyallah beberapa hal berikut ini  bisa menjadi acuan bagi kita untuk belajar menjadi pemimpin yang baik.

1. Jujur.

Seorang pemimpin yang baik menunjukkan ketulusan, integritas dan keterbukaan dalam setiap tindaknnya.
2.    Kuat dan amanah
Kuat di sisni lebih kepada  ketangguhan fisik, mental dan spritiual.. Pelaksanaan tugas –tugas kepemimpinanan akan sanata ditunjang dengan kebugaran fisik.Disisi lain  pemimpin juga dituntut  untuk bisa bersikap tegar  terhadap segala kesulitan yang dihadapi. bersikap tenan, penuh percaya diri memberikan motivasi juga inspirasi  kepada bawahan  untuk terus berkinerja positif mewujudkan tujuan. Dan hany dengan spiritualitas yang terjaga  pulalah sikap mental yang tangguh  dapat ditumbuhkan.
Amanah dibangun dengan kompetensi dan profesionalitas. Mengedepankan rasioanalitas cara berfikir ketika berhadapan dengan apaun  serta dalam situasi yang bagaimanapun.
3.    Berpandangan kedepan ( visioner )  dan menetapkan tujuan ( visi dan misis ) yang jelas .
Dalam menetapkan tujuan pemimpin perlu menanamkan pemikiran bahwa tujuan tersebut adalah milik organisasi secara keseluruhan. Mengetahui apa yang diinginkan  serta bagaimana cara  untuk mendapatkannya. Menetapkan  prioritas berdasarkan  nilai dasar yang dianut dalam  organisasi tersebut.   Menginspirasi bawahan  untuk berkarya lebih baik.


4.    Cerdas

Menjadi pembelajar sejati  yang terus meng up grade diri  untuk bertumbuh menjadi lebih baik.
5.    Bijak serta adil.
Berupaya untuk  menempatkan segala sesuatu  pada porsinya yang tepat.  Memiliki sikap empati. Sehingga peka terhadap  perasaan, nilai – nilai, minat  serta keberadaan orang lain.
6.    Berfikir luas.
Terbuka terhadap segala perbedaan. Tidak memiliki kecenderungan pada salah satu pihak saja.
7.   Monitoring
Memonitor terhadap tugas – tugas  yand telah didelegasikan  pada bawahan. Sampai dimana tingkat pencapaian, terdapat kendala atau tidak. Sehingga segala kemungkinana dapat diantisipasi  lebih awal dan dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
8.   Evaluasi
Melakukan evaluasi secara berkala  terhadap kinerja bawahan . Ini penting dilakukan  untuk  memberikan masukan berarti bagi kemajuan organisasi/ perusahaan.
9.   Membangun komunikasi yang efektif.
( Lebih jelasnya baca : how to good speaker’s )
10.    Mengembangkan ketrampilan tim  dengan mengadakan pelatihan – pelatihan  secara berkala. Sebagai jawaban atas semakaintingginya  persaingan dalam dunia kerja.

11.   Bisa menempatkan diri
Ada kalanya seorang pemimpin harus turun tangan  bila bawahan  memerlukan  bantuan ( disaat – saat genting ) dan tak ada alasan  untuk menolaknya. Bimbing bawahan menuju sukses.

Keberhasilan seorang peminpin sangata bergantung dari kemampuan untuk membangun  orang – orang  disekitarnya,

karena keberhasilan sebuah organisasi sangat bergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut “

( John Maxwell, in Developing The Leaders Araund You : 2000 )

Dy  : Dari berbagai sumber.